Dzikir: Seni Mengingat Tuhan
Daftar Isi
“Ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian” (QS 2:152). Dari satu ayat ini tumbuh sebuah ilmu yang utuh. “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS 13:28). Ini bukan anjuran yang lembut. Ini sebuah perintah sekaligus sebuah janji. Al-Quran menyuruh orang beriman untuk mengingat, dan menyebutkan apa yang dikerjakan oleh pengingatan itu: ia menenangkan hati. Apa yang oleh tradisi disebut dzikir tidak lain adalah orang beriman yang menanggapi perintah itu dengan sungguh-sungguh lalu membawanya ke dalam seluruh hidupnya. Selama berabad-abad para Sufi mengasahnya menjadi salah satu disiplin hati paling cermat yang pernah dilahirkan Islam.
Apa Itu Dzikir?
Dalam bentuknya yang paling sederhana, dzikir adalah pengulangan nama-nama Allah dan kalimat-kalimat suci tertentu. La ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah), Allahu Akbar (Allah Mahabesar), Subhanallah (Mahasuci Allah), salah satu dari sembilan puluh sembilan Nama, sepotong ayat Al-Quran. Bentuknya berbeda-beda. Asasnya tidak.
Dzikir bisa diucapkan dengan lisan secara nyaring (dzikir lisan, pengingatan yang lahir, dzikir jali). Bisa pula dibawa diam di dalam hati tanpa tanda lahir apa pun (dzikir qalbi, pengingatan yang tersembunyi, dzikir khafi). Ia bisa dilakukan sendirian dalam keheningan menjelang fajar atau bersama-sama dalam sebuah lingkaran. Ia bisa berlangsung beberapa menit atau berjam-jam. Ia bisa dihitung dengan untaian tasbih, di ruas-ruas jari, atau tidak dihitung sama sekali. Dalam semua hal itu, kerjanya tetap satu. Perhatian hati, yang berserak ke seribu urusan dunia, dihimpun kembali dan diarahkan kepada Allah. Dzikir mengumpulkan apa yang dicerai-beraikan oleh kelalaian.
Kedengarannya mudah. Padahal tidak. Siapa pun yang pernah mencoba menahan perhatiannya pada satu titik saja, walau hanya semenit, tahu betapa gelisahnya hati ini, betapa ia terus-menerus melontarkan kenangan, rencana, ketakutan, dan keinginan kecil tanpa henti. Nafsu yang rendah tidak mau diam; ia mau terus berbicara. Dzikir tidak membungkam suara itu dengan paksa. Ia memberi hati sesuatu yang lebih baik untuk diucapkan.
Keberatan Si Peragu
“Bagaimana mungkin mengulang satu kata seribu kali bisa berarti apa-apa?” Siapa saja yang menjumpai dzikir dari luar cepat atau lambat bertanya begitu, dan pertanyaan ini layak dijawab dengan sungguh-sungguh.
Pertanyaan itu mengandaikan bahwa hati yang tidak sedang berdzikir adalah hati yang tenang, sebuah ruang sunyi yang justru akan dipenuhi sampah oleh kata-kata suci. Padahal hati tidak pernah tenang. Ia selalu mengulang sesuatu. Dibiarkan sendirian, ia menelusuri masa lalu, mencemaskan masa depan, memutar ulang percakapan-percakapan lama, dan menceritakan lagi dan lagi kisah tentang “aku”.
Amatilah dengan jujur apa yang dikerjakan hati ketika dibiarkan begitu saja. Ia mengulang namamu, kekhawatiranmu, dendammu, dan hawa nafsumu. Ia menuturkan kisah yang sama tentang luka yang sama. Ia melatih ketakutan yang sama akan hari esok yang barangkali tidak pernah tiba. Nafs, jiwa rendah yang dipetakan begitu cermat dalam tahapan jiwa, menghidupi dirinya justru lewat pengulangan yang tak henti ini. “Aku tidak cukup baik”, diucapkan sepuluh ribu kali dalam gelap, tetaplah sebuah pengulangan. “Apa kata orang nanti tentangku”, berputar dalam seratus bentuk, tetaplah sebuah pengulangan. Maka soalnya tidak pernah apakah pengulangan membentuk hati. Ia selalu membentuk. Yang menjadi soal hanyalah apa yang diulang oleh hati.
Dzikir tidak menuangkan pengulangan ke dalam hati yang tadinya tenang. Ia membalikkan arah pengulangan yang memang sudah berjalan. Sebagai ganti nafsu yang melatih kecemasannya, lisan dan hati melatih nama-nama Allah. Sebagai ganti ego yang mendesakkan tuntutannya sendiri, sang hamba berpaling kepada Yang lebih besar daripada ego. Ini bukan penindasan. Ini pertukaran. Kebiasaan lama tidak harus dibanting hingga takluk. Ia tinggal diganti.
Karena itulah setiap tarekat Sufi, betapapun berbeda metode dan wataknya, sepakat bahwa dzikir adalah pijakan jalan ini. Kaum Mevlevi memadukannya dengan musik dan putaran suci. Kaum Naqsyabandi menyimpannya diam di dalam hati. Kaum Qadiri mengangkatnya nyaring dalam majelis berirama yang bisa memenuhi seluruh ruangan. Kaum Syadzili menempatkannya dalam wirid-wirid yang amat indah. Namun semuanya, tanpa kecuali, berangkat dari pengingatan. Tiada jalan menuju Allah dalam tradisi ini yang tidak melewati dzikir.
Tiga Tingkatan
Para guru klasik melukiskan tiga tingkatan dzikir, dan tingkatan-tingkatan ini melacak perjalanan dari permukaan menuju kedalaman dengan amat jernih.
Yang pertama adalah dzikir lisan. Sang pencari mempelajari kalimatnya lalu mengulang-ulangnya. Pada tahap ini kerjanya masih terasa mekanis. Lisan bergerak, bunyi terbentuk, tetapi hati boleh jadi masih jauh. Sang pencari mungkin merasa bosan, terganggu, atau ragu. Ini wajar dan memang sudah diperkirakan. Seorang pemain musik yang sedang berlatih tangga nada belum merasakan musiknya; yang ia rasakan baru kekakuan jari-jarinya. Lisan harus mengenal bentuk nama-nama itu lebih dulu sebelum hati dapat menerimanya.
Yang kedua adalah dzikir hati. Di sini ada yang berbalik. Diulang cukup lama, dan dengan ketulusan, kalimat itu mengendap di bawah tingkat ucapan yang disadari. Hati sendiri mulai berdenyut bersama pengingatan. Sang pencari mendapati dzikir itu terus berjalan bahkan ketika ia tidak sengaja melakukannya. Ia naik dengan sendirinya di tengah pekerjaan biasa. Ia muncul di sela antara tidur dan jaga. Dalam Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali melukiskan ini sebagai titik ketika dzikir berhenti menjadi sesuatu yang dikerjakan sang pencari dan menjadi sesuatu yang terjadi di dalam dirinya. Peralihan ini penting. Mula-mula, “aku mengingat Allah.” Lalu, “pengingatan timbul di dalam diriku.”
Yang ketiga adalah dzikir ruh (dzikir al-ruh). Di sini sang pencari, yang tadinya berdiri terpisah lalu melakukan sebuah perbuatan, mundur ke belakang. Yang tersisa bukan kekosongan melainkan kepenuhan: pengingatan itu memenuhi hati sedemikian rupa hingga ego tidak lagi duduk di pusatnya. Inilah yang oleh tradisi disebut fana. Penting untuk cermat tentang apa itu fana. Ia bukan pemusnahan diri sang pribadi. Garis antara Khalik dan makhluk tetap nyata dan tak tersentuh; sang hamba tetap seorang hamba yang diciptakan. Setetes air tidak menjadi samudra. Yang terbakar habis bukanlah diri, melainkan kekeraskepalaan diri atas kedaulatannya sendiri, klaimnya untuk berdiri sendiri, kebiasaannya menempatkan dirinya di pusat segala sesuatu. Diri yang lahir lewat fana justru lebih benar-benar menjadi dirinya daripada sebelumnya, bukan kurang. Karatnya telah dibakar lepas. Yang tinggal adalah emas.
Pertautan dengan Napas
Banyak bentuk dzikir bergerak mengikuti napas, dan ini bukan kebetulan. Ia terletak dekat ke jantung praktik ini.
Dalam satu cara yang lazim, sang pencari mengembuskan napas pada La (“tidak”) dan menarik napas pada ilaha illallah (“tuhan selain Allah”). Embusan membawa penafian, pelepasan segala yang bukan Allah. Tarikan membawa penegasan, penerimaan akan hakikat ilahi yang tetap tinggal ketika segala selainnya telah disingkirkan. Napas itu sendiri menjadi sebuah pengakuan iman. Tiap putaran napas menjadi pemeranan kecil dari tauhid, kesaksian bahwa Allah itu Esa.
Mengapa napas? Karena napas adalah yang paling akrab di antara hal-hal yang tidak kita perintah. Jantung berdetak tanpa izin kita. Paru-paru terisi tanpa kita suruh. Dengan mengikat kalimat suci pada irama ini, sang pencari menanam pengingatan ke dalam hidup tubuh yang terus berjalan. Dzikir berlanjut ketika perhatian yang disadari mengendur, bahkan dalam tidur, dibawa oleh napas yang tak pernah berhenti. Inilah salah satu cara dzikir lisan matang menjadi dzikir hati. Kalimat itu berpindah dari yang kita kehendaki menjadi yang kita ada, dari upaya menjadi tabiat kedua.
Sebagian tarekat mengembangkannya lebih jauh. Habs-i dam kaum Naqsyabandi, penahanan napas, memadukan pola-pola napas tertentu dengan perhatian yang dipusatkan pada titik-titik halus hati, yaitu lataif. Para guru Kubrawi memetakan seluruh bentangan batin yang penuh cahaya dan warna pada perjumpaan napas dengan dzikir. Ini bukan rekaan kosong. Ia adalah temuan-temuan terkumpul dari banyak generasi yang menguji, di dalam hati mereka sendiri, bagaimana napas, perhatian, dan keadaan batin saling bekerja satu sama lain.
Wirid: Resep bagi Hati
Di dalam tarekat Sufi yang hidup, dzikir bukan anjuran yang samar. Ia adalah sebuah resep yang cermat. Wirid (jamak aurad) adalah litani harian yang diberikan seorang syaikh kepada murid, muridnya. Ia menetapkan Nama atau kalimat apa yang harus dibaca, berapa kali, pada jam berapa, dan dengan cara yang bagaimana.
Kecermatan ini bukan kerumitan tak berguna. Ia adalah kehati-hatian seorang tabib. Nama yang berbeda membuka kamar yang berbeda dalam kehidupan batin. Orang yang bergulat dengan ketidaksabaran diberi obat yang lain daripada orang yang bergulat dengan kesombongan. Seorang pemula memerlukan obat yang lain daripada orang yang telah menempuh jalan ini selama tiga puluh tahun. Sang syaikh, yang sudah menempuh sendiri jalan itu dan memiliki ketajaman pandang (firasa) untuk membaca keadaan murid, memberikan resep sesuai dengannya.
Karena inilah tradisi berpegang begitu teguh pada keperluan akan pembimbing yang berkelayakan. Dzikir tanpa bimbingan bukan berbahaya, melainkan tidak mengena. Ia seperti meminum obat tanpa diagnosis. Sang syaikh tidak berdiri di antara murid dan Allah. Ia seorang tabib yang menolong murid menemukan dan mengobati penyakit-penyakit tertentu yang menahan hati dari terjaga penuh kepada kehadiran yang sejak semula sudah dekat.
Alkimia Sembilan Puluh Sembilan Nama
Tradisi memegang bahwa Allah memiliki sembilan puluh sembilan Nama, masing-masing menyingkap satu sifat dari hakikat-Nya. Nama-nama itu tidak saling menggantikan. Tiap-tiapnya membuka jendela tersendiri ke arah ikatan antara hamba dan Tuhannya.
Ya Sabur (Wahai Yang Mahasabar), diberikan kepada orang yang dilahap amarah, mengajari hati bahwa kesabaran bukanlah kelemahan melainkan sifat ilahi. Ya Latif (Wahai Yang Mahalembut dan Mahahalus), ditawarkan kepada orang yang berduka, menunjukkan bahwa ada kelembutan tersembunyi yang mengalir bahkan melalui keadaan yang paling keras. Ya Qahhar (Wahai Yang Mahaperkasa), diberikan kepada orang yang terbelenggu keterikatan, meremukkan berhala apa pun yang ditegakkan nafsu di dalam hati. Ya Wadud (Wahai Yang Maha Mengasihi), bagi orang yang hatinya telah membeku, menyalakan kembali kehangatan yang tanpanya kehidupan batin tidak bisa tumbuh.
Mengulang sebuah Nama tertentu bukanlah sihir dan bukan takhayul. Ia adalah pengingatan yang tekun dan penuh perhatian. Ketika seseorang membaca Ya Sabur tiga ratus kali seusai shalat subuh, hari demi hari, pekan demi pekan, kesabaran berhenti menjadi keutamaan yang ia kagumi dari jauh. Ia menjadi serat dari kehidupan batinnya sendiri. Nama itu bekerja padanya sebagaimana air bekerja pada batu, bukan dengan paksaan melainkan dengan kesabaran. Inilah alkimia nama-nama itu. Ia tidak mengubah apa Allah itu. Ia mengubah apa yang dapat dilihat dan dipikul oleh sang hamba.
Al-Ghazali, dalam kitabnya tentang nama-nama ilahi, mengajarkan bahwa tujuan mengenal Nama-nama itu bukanlah sekadar paham, melainkan takhalluq: mengenakan watak Nama itu, membiarkannya membentuk kembali sifat-sifat diri menuju sifat-sifat ilahi. Ini bukan berarti menjadi Tuhan. Ini berarti memoles cermin hati sampai ia memantulkan, betapapun samarnya, secercah dari cahaya yang untuk memantulkannya ia diciptakan.
Lingkaran Pengingatan
Dzikir dipraktikkan baik sendirian maupun berjamaah, dan bentuk berjamaah, yaitu halqah atau lingkaran, memiliki kekuatannya sendiri.
Dalam sebuah halqah para pelaku duduk atau berdiri membentuk cincin lalu berdzikir bersama di bawah seorang pemimpin. Irama menyatu menjadi satu langkah. Napas saling sejajar. Banyak suara menjadi satu bunyi. Ada sesuatu yang timbul dalam penyatuan ini yang tidak timbul dalam praktik seorang diri. Tradisi menamainya himmah, kehendak sungguh-sungguh sang pencari, daya dari niat yang tulus. Dalam sebuah lingkaran, himmah tiap orang mengangkat himmah yang lain.
Dzikir berjamaah juga mengerjakan sebuah kerja kemanusiaan yang tidak bisa dipisahkan dari kerja batinnya. Lingkaran itu meleburkan pangkat. Si kaya dan si miskin duduk berbahu-bahu, mengucapkan kalimat yang sama, menghirup udara yang sama. Si ulama dan si buruh harian, yang tua dan yang muda, menjadi setara dalam perbuatan mengingat yang dibagi bersama. Tasawuf selalu tahu bahwa hati tidak dapat matang terlepas dari mutu pergaulan seseorang dengan sesamanya. Halqah sekaligus adalah ibadah dan persaudaraan, sebuah berpaling kepada Allah dan sebuah berpaling kepada sesama.
Bentuk dzikir berjamaah amat berbeda dari satu tarekat ke tarekat lain. Halqah Qadiri bisa kental jasmaninya, dengan ayunan berirama dan suara-suara kuat yang naik hingga puncaknya. Khatm-i khwajagan kaum Naqsyabandi adalah perhimpunan yang hening dengan pemusatan yang dalam, sebuah rangkaian bacaan tertentu yang dibawa bersama di dalam hati. Majelis Syadzili berporos pada wirid seperti Hizb al-Bahr, Litani Lautan, yang disusun oleh Abu al-Hasan asy-Syadzili, yang keindahan prosa Arabnya yang berirama hampir-hampir dirasakan oleh tubuh para pembacanya. Tiap bentuk memantulkan watak para guru pendirinya. Namun semuanya berjumpa di titik yang sama: pengingatan, bersama-sama.
Bukan Menambah, Melainkan Mengganti
Wawasan terdalam dari tradisi dzikir bukanlah bahwa nama-nama Allah membawa kekuatan. Wawasan itu adalah bahwa nama-nama itu menggeser sesuatu yang sudah lebih dulu mengisi tempat yang mereka tempati. Hati tidak pernah kosong. Ia selalu penuh dengan sesuatu: penuh kecemasan, ambisi, dendam, hawa nafsu, atau penuh pengingatan. Pilihannya bukan antara hati yang penuh dan hati yang kosong. Pilihannya adalah antara kepenuhan-kepenuhan yang berbeda jenisnya.
Karena inilah perbandingan yang gampang, “pengingatan adalah cara menjernihkan pikiran”, luput dari intinya. Dzikir tidak menuju hati yang kosong. Ia menuju isi yang berubah. Sang pencari tidak berusaha berhenti berpikir. Ia berpikir secara lain, mengisi ruang batin dengan nama-nama Allah sebagai ganti monolog ego yang tak ada habisnya. Lama-kelamaan pengisian ulang ini mengubah bukan hanya apa yang dimuat hati, tetapi juga bagaimana hati bekerja. Hati yang dibentuk oleh bertahun-tahun dzikir tidak menghadapi pengalaman seperti hati yang dibentuk oleh bertahun-tahun kecemasan. Yang satu membaca tanda-tanda Allah di segala penjuru. Yang lain hanya membaca ancaman.
Inilah makna lugas dari ayat, “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” Hati menemukan ketenangan bukan karena ia telah dikosongkan, melainkan karena ia telah diisi dengan sesuatu yang tidak melahirkan gejolak lebih lanjut. Kecemasan melahirkan kecemasan lebih banyak. Ketakutan melahirkan ketakutan lebih banyak. Tetapi pengingatan kepada Allah mendatangkan sakinah, ketenteraman yang disebut Al-Quran: bukan diamnya sebuah ketiadaan, melainkan diamnya sebuah kehadiran (huzur). Hati yang tenang adalah hati yang telah menemukan isi yang layak baginya.
Tujuh abad praktik, melintasi berpuluh budaya dan bahasa, melintasi tarekat-tarekat yang berselisih tentang hampir segala hal lain, semuanya berlabuh pada satu titik ini. Dzikir adalah pijakan. Bukan karena para guru kekurangan daya khayal untuk mencoba yang lain, melainkan karena mereka belajar, lewat kesaksian hidup sepanjang umur, bahwa hati paling pasti berubah ketika ia diberi sesuatu yang layak untuk diulang. Alam semesta sudah mengulang. Napas sudah mengulang. Hati sudah mengulang. Dzikir hanya meminta ini: biarlah apa yang diulang itu layak bagi orang yang mengingat, dan bagi Dia yang diingat.
Sumber
- Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin (c. 1097)
- Al-Qusyairi, Ar-Risalah (c. 1046)
- Al-Quran: 33:41, 13:28, 2:152
- Kumpulan hadis: Bukhari, Muslim
Tag
Artikel Terkait
Khalwat: Uzlah Spiritual
Khalwat, praktik menyendiri secara spiritual dalam tradisi Sufi, adalah metode intensif untuk memperdalam hubungan denga...
PraktikMuraqabah: Seni Kontemplasi Sufi
Muraqabah, praktik kontemplasi dan kesadaran akan kehadiran Allah, adalah salah satu metode terpenting dalam penyucian j...
PraktikSema: Tarian Suci Para Darwis
Sema, ritual berputar Tarekat Mevlevi, bukan pertunjukan seni melainkan ibadah: sebuah bentuk dzikir yang melibatkan sel...
Kutip sebagai
Raşit Akgül. “Dzikir: Seni Mengingat Tuhan.” sufiphilosophy.org, 3 April 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/praktik/dhikr