Lewati ke konten
Guru

Rumi: Penyair Cinta Universal

Oleh Raşit Akgül 3 April 2026 11 menit baca

Jalaluddin Muhammad Rumi (1207-1273), yang di Turki dikenal sebagai Mevlana (“Tuan Kami”), adalah salah satu penyair yang paling banyak dibaca di seluruh dunia. Ia menulis dalam bahasa Persia, di Konya, lebih dari tujuh abad yang lalu. Sejak itu syairnya telah dipindahkan ke hampir semua bahasa besar, dan selama bertahun-tahun ia termasuk penyair terlaris di Amerika Serikat. Sebelum menjadi penyair, ia lebih dulu seorang ulama, dan cinta yang ia nyanyikan adalah cinta seorang hamba kepada Tuhannya.

Hidup yang Dibentuk oleh Hijrah

Rumi lahir di dekat Balkh, di wilayah yang kini menjadi Afghanistan, dalam keluarga ulama dan ahli teologi. Ayahnya, Bahauddin Walad, adalah seorang guru dan syekh Sufi yang dihormati. Catatan ruhaninya, Ma’arif, memperlihatkan kehidupan batin yang kaya dan sarat perenungan atas Al-Quran. Saat Rumi masih kecil, keluarganya menempuh perjalanan panjang ke barat, kemungkinan besar untuk menghindari pasukan Mongol yang terus mendekat. Mereka melewati Nisyapur, Baghdad, Makkah, dan Damaskus, lalu akhirnya menetap di Konya, ibu kota Kesultanan Seljuk Rum. Dari nama Rum itulah sebutan Rumi berasal.

Seorang Ulama Sebelum Menjadi Penyair

Gambaran populer tentang Rumi sebagai penyair yang mabuk cinta menyembunyikan satu babak panjang di awal hidupnya. Selama puluhan tahun ia adalah ulama yang teliti dalam ilmu-ilmu keislaman, dan belum satu baris pun syair mistis keluar dari penanya. Ketika ayahnya wafat pada tahun 1231, Rumi mewarisi kedudukan mengajar ayahnya di Konya. Namun pendidikannya sendiri masih jauh dari selesai.

Ia pergi ke Aleppo untuk belajar di madrasah Halawiyya, salah satu pusat keilmuan terdepan di Syam. Dari sana ia melanjutkan ke Damaskus, yang waktu itu menjadi salah satu ibu kota intelektual dunia Islam, dan menghabiskan beberapa tahun di lingkaran para ulamanya. Pada tahun-tahun itu ia memperdalam penguasaan atas fikih, ilmu hadis, dan tafsir Al-Quran. Ia mengkaji mazhab Hanafi secara menyeluruh, dan tulisan-tulisannya kelak menunjukkan pemahaman yang mendalam atas teks maupun ruh Syariat.

Di Damaskus dan Konya pula Rumi bersentuhan dengan warisan pemikiran Ibnu Arabi. Sadruddin al-Qunawi, murid terkemuka sekaligus anak tiri Ibnu Arabi, adalah sahabat dan tetangganya di Konya. Keduanya saling menghadiri majelis, dan al-Qunawi yang memimpin salat jenazah Rumi. Persahabatan itu meninggalkan jejak: kosakata metafisika Rumi, caranya membicarakan nama-nama dan sifat-sifat Ilahi, serta bacaannya atas wahdatul wujud, semuanya membawa pengaruh kedekatan itu. Namun Rumi tidak menulis dalam prosa teoretis yang padat seperti mazhab Ibnu Arabi. Ia berbicara lewat kisah dan gambaran, agar siapa saja yang hatinya mau mendengar dapat mengikutinya.

Menjelang usia akhir tiga puluhan, Rumi sudah menjadi salah satu ahli fikih dan penceramah yang paling dihormati di Konya, dengan ratusan murid. Ia sukses, mapan, dan sepenuhnya menempuh jalan yang lazim. Tak ada satu pun dari kariernya sejauh itu yang memberi isyarat tentang apa yang akan datang.

Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Pada tahun 1244, seorang darwis pengembara bernama Syams-i Tabrizi tiba di Konya. Pertemuan antara Syams dan Rumi adalah salah satu perjumpaan paling terkenal dalam sejarah pemikiran. Riwayat-riwayatnya berbeda-beda, tetapi semuanya sepakat pada satu hal: Syams melontarkan sebuah pertanyaan yang meretakkan kepastian-kepastian keilmuan Rumi dan menyalakan dalam dirinya kobaran cinta kepada Allah yang tak tertahankan.

Sesudah itu datanglah masa kebersamaan yang sangat erat. Rumi meninggalkan kegiatan mengajarnya yang resmi dan menghabiskan berbulan-bulan bercakap-cakap dengan Syams, larut dalam keadaan terpukau dan mencurahkan syair. Perubahan itu begitu mendadak hingga membuat cemas para murid dan keluarganya. Syams akhirnya menghilang, diusir atau mungkin dibunuh, dan duka Rumi atas kehilangan itu menjadi tungku tempat syairnya yang terbesar ditempa.

Lama-kelamaan Rumi mengerti bahwa Syams bukanlah seorang yang harus digenggam erat. Syams adalah kaca bening tempat cahaya cinta Ilahi terpantul, dan cahaya itulah yang kini ia bawa di dalam dirinya sendiri.

Ajaran-Ajaran Pokok

Cinta sebagai Hakikat yang Mendasar

Bagi Rumi, cinta (isyq) bukan sekadar perasaan manusiawi. Ia adalah tarikan yang paling dalam di dalam wujud, kerinduan yang menarik segala sesuatu kembali ke asalnya. Dari getaran atom hingga peredaran bintang, seluruh ciptaan condong kepada Tuhannya. Syairnya kembali lagi dan lagi kepada hal ini. Dalam jilid pertama Masnawi ia menulis:

“Karena cinta, yang pahit menjadi manis; karena cinta, kepingan tembaga berubah menjadi emas.”

Ini adalah filsafat, bukan sentimen. Cinta adalah kerinduan yang diciptakan kepada Sang Pencipta. Ia melonggarkan cengkeraman ego dan memalingkan jiwa kepada kebenaran. Dan cinta itu tidak diraih lewat angan-angan. Ia ditumbuhkan melalui ibadah, melalui zikir, dan melalui pengabdian yang sabar.

Seruling Buluh dan Kerinduan

Masnawi, mahakarya Rumi yang berisi lebih dari 25.000 bait, dibuka dengan ratapan seruling buluh (ney) yang dipotong dari rumpunnya:

“Dengarkanlah seruling buluh, bagaimana ia berkisah, mengeluhkan perpisahan.”

Bacalah pembukaannya selengkapnya dalam Nyanyian Buluh.

Gambaran ini memuat seluruh pandangan Rumi tentang manusia. Jiwa telah dipisahkan dari sumbernya, dan ia membawa di dalam dirinya kerinduan bawaan untuk kembali. Kerinduan itu bukan luka yang harus disembuhkan. Ia adalah kompas yang menunjuk arah pulang.

Berbicara dari Maqam Fana

Syair Rumi menjangkau pembaca dari banyak budaya. Itu bukan karena ia berdiri di atas tradisinya. Ia adalah ulama yang terlatih dalam hukum Islam, yang mengakarkan segala yang ia ajarkan pada Al-Quran dan menulis panjang lebar dalam memuji Nabi Muhammad. Ia menjangkau begitu jauh karena ia menuturkan makna batin tradisi itu dengan kedalaman yang membuat kata-katanya melampaui satu latar mana pun.

“Aku bukan dari Timur maupun Barat, bukan dari darat maupun lautan… Tempatku adalah yang tak bertempat, jejakku adalah yang tak berjejak.”

Baris-baris ini melukiskan sebuah keadaan ruhani (hal), yaitu keadaan hati yang dikuasai cinta Ilahi. Ini bukan akidah yang melepaskan seseorang dari agamanya. Rumi memang menyambut orang dari segala latar belakang dalam majelisnya, tetapi itu adalah kasih sayang yang meneladani Nabi, bukan sikap acuh tak acuh terhadap kebenaran. Puisinya Rumah Tamu menggambarkan pintu yang terbuka itu.

Berputar (Sema)

Rumi secara tradisional dianggap sebagai pemula praktik sema, tarian berputar yang kini dikaitkan dengan Tarekat Mevlevi. Ritualnya yang baku kemungkinan besar baru disusun setelah wafatnya oleh putranya, Sultan Walad, tetapi gerakan berputar itu mengusung ajarannya dalam bentuk tubuh. Ketika berputar, sang darwis melepaskan cengkeraman erat ego dan berdiri dalam kehadiran di hadapan Allah (huzur). Gerakan itu mencerminkan gerakan wujud itu sendiri, tempat segala sesuatu dari atom hingga planet bergerak dalam lingkaran.

Tangan kanan terbuka ke atas untuk menerima apa yang diberikan; tangan kiri menengadah ke bawah untuk meneruskannya ke dunia. Sang darwis menjadi saluran, bukan wadah. Inilah fana yang digerakkan: diri tidak lebur ke dalam Tuhan, dan hamba tetap seorang hamba. Tetapi cengkeraman ego cukup mengendur sehingga pemberian itu dapat mengalir melaluinya.

Masnawi sebagai Metode Pengajaran

Masnawi-i Ma’nawi (“Bait-Bait Ruhani”) bukanlah sekadar kumpulan puisi. Ia adalah alat pengajaran dengan kecanggihan yang luar biasa, dan memahami cara kerjanya akan mengubah cara kita membacanya.

Rumi mendiktekan Masnawi pada tahun-tahun terakhir hidupnya kepada muridnya, Husamuddin Chalabi. Karya itu terdiri atas enam jilid dan sekitar 25.000 bait, dan susunannya sengaja menolak garis lurus yang biasa dituntut sebuah risalah. Rumi memulai sebuah kisah, memotongnya untuk membahas satu pokok teologi, menanam kisah kedua di dalam kisah pertama, mengomentari tindakan bercerita itu sendiri, mengutip sebuah hadis, kembali ke kisah pertama dari sudut yang tak terduga, lalu berpaling untuk menyapa pembaca secara langsung.

Ini bukan kekacauan. Ini metode.

Dengan mengganggu harapan pembaca pada setiap belokan, Rumi menjaganya agar tidak terjebak dalam pemahaman yang nyaman dan merasa sudah selesai. Masnawi tidak bisa dibaca seperti membaca novel, menyerap sebuah kisah lalu beralih. Teks ini menuntut pembacanya untuk ikut serta. Ia berputar kembali, membantah dirinya sendiri, mengejutkan, dan memaksa pembaca memegang beberapa lapis makna sekaligus.

Setiap kisah bekerja pada sekurang-kurangnya tiga tingkat. Di permukaan ada cerita, sering kali lucu atau membumi, dengan tokoh-tokoh berupa binatang, pedagang, orang bodoh, dan para pencinta. Di bawahnya ada ajaran tentang nafsu (ego) dan tipu dayanya. Lebih dalam lagi ada lapisan tentang ikatan antara yang diciptakan dan Sang Pencipta.

Kisah gajah di kamar yang gelap adalah contoh yang jelas. Di permukaan ia adalah fabel tentang keterbatasan pengetahuan yang sepotong-sepotong. Ia juga menggambarkan akal yang berjuang menggapai apa yang berada di luar jangkauannya. Dan pada tingkat yang paling dalam ia menunjuk mengapa wahyu sama sekali diperlukan: kamar itu butuh cahaya yang datang dari luar dirinya.

Rumi kerap mengingatkan pembaca bahwa makna sejati Masnawi tidak dapat ditangkap oleh kata-kata. Buku itu adalah pelita, dan cahaya yang melewatinya jauh lebih besar daripada pelita mana pun. Tetapi pelita itu dibuat dengan begitu halus hingga tujuh abad pembaca tak sanggup berpaling darinya.

Tarekat Mevlevi dan Kebudayaan Ottoman

Tarekat Mevlevi, yang dibentuk oleh para pengikut Rumi dan ditata oleh putranya, Sultan Walad, menjadi jauh lebih dari sekadar tarekat Sufi. Selama berabad-abad kekuasaan Ottoman, tarekat ini tumbuh menjadi salah satu lembaga budaya utama kekaisaran, yang membentuk selera musik, puisi, kaligrafi, dan adab kehidupan istananya.

Loji Mevlevi (mevlevihane) sama-sama berfungsi sebagai konservatori dan pusat ruhani. Jalan Mevlevi menuntut bukan hanya disiplin batin, tetapi juga penguasaan sebuah seni, biasanya musik atau kaligrafi. Inilah yang menarik kumpulan bakat yang luar biasa ke dalam tarekat. Banyak komponis terbesar musik klasik Ottoman adalah darwis Mevlevi. Buhurizade Mustafa Itri (1640-1712), yang karyanya Neva Kar dan Segah Tekbir tetap menjadi tonggak repertoar, adalah seorang Mevlevi. Hammamizade Ismail Dede Efendi (1778-1846), barangkali tokoh terpenting dalam musik Ottoman, adalah seorang Mevlevi yang mencurahkan sebagian karya terbaiknya ke dalam ayin, komposisi panjang yang ditulis untuk upacara sema. Ney, seruling buluh yang membuka Masnawi, menjadi alat musik khas musik klasik Ottoman sebagian besar berkat pengaruh Mevlevi.

Dalam kaligrafi pun tarekat ini melahirkan para empu yang membentuk wajah visual kekaisaran. Loji-lojinya adalah sekolah tempat para kaligrafer muda dilatih bertahun-tahun di bawah bimbingan tangan-tangan ahli, menyalin ayat-ayat Al-Quran dan puisi Persia dengan ketekunan yang sama.

Mevlevihane Galata di Istanbul, yang didirikan pada tahun 1491, menjadi salah satu pusat budaya terpenting di ibu kota Ottoman. Para diplomat dan musafir asing menghadiri upacara semanya, dan loji ini turut berperan secara halus dalam diplomasi budaya kekaisaran. Beberapa syekh Mevlevi mengisi peran penasihat di istana, dan reputasi tarekat ini dalam keilmuan dan kehalusan budi memberinya kedudukan yang sedikit dimiliki tarekat lain.

Ketika Republik Turki menutup tarekat-tarekat Sufi pada tahun 1925, struktur Mevlevi dibubarkan secara resmi. Tetapi saat itu pengaruhnya sudah meresap begitu dalam ke dalam seni, musik, dan sastra Turki sehingga tak mungkin lagi ditarik keluar. Sema dihidupkan kembali pada tahun 1950-an sebagai “pertunjukan budaya” dan lambat laun kembali mendekati akar ruhaninya.

Rumi di Dunia Barat Modern

Sejak tahun 1990-an, Rumi menjadi penyair terlaris di Amerika Serikat, sebuah hasil yang pasti akan membuatnya terheran-heran. Banyak dari capaian ini berkat olahan Coleman Barks, seorang penyair yang tidak membaca bahasa Persia. Ia menggubah ulang terjemahan ilmiah terdahulu karya R.A. Nicholson dan A.J. Arberry menjadi sajak bebas Amerika yang kontemporer.

Sebagai puisi berbahasa Inggris, olahan Barks sering kali indah. Olahan itu telah membawa jutaan pembaca kepada nama Rumi dan kepada kekuatan visinya. Itu sebuah anugerah yang nyata.

Tetapi ada sesuatu yang penting yang luruh dalam proses itu. Barks cenderung membersihkan rujukan-rujukan Islam dari puisi-puisi itu. Penyebutan Nabi Muhammad, kiasan-kiasan Al-Quran, rujukan pada salat dan puasa, nama Allah: semua itu memudar atau melembut menjadi isyarat spiritual yang samar. Yang tersisa adalah Rumi yang terdengar seperti seorang mistikus California abad kedua puluh, bukan seorang ulama Muslim abad ketiga belas. Seorang Rumi yang menjadi milik semua orang, dan dengan begitu tak berakar di tempat mana pun.

Hal ini berdampak nyata. Pembaca yang hanya mengenal Rumi versi Barks bisa jadi mengira filsafat Sufi adalah spiritualitas mengambang tanpa tradisi di belakangnya, semacam kebijaksanaan swabantu lama yang dihiasi mawar dan anggur. Ia akan luput menangkap bahwa puisi cinta Rumi yang menggelora bertumpu pada pemahaman khusus tentang tauhid (keesaan Ilahi), bahwa anggurnya adalah anggur zikir, dan bahwa “Sang Kekasih”-nya bukanlah kekasih manusia, melainkan hakikat Ilahi sebagaimana dipahami tradisi Islam.

Sarjana Omid Safi menyebut hal ini sebagai “Rumi yang telah hilang dari kita.” Biografi penting karya Franklin Lewis, Rumi: Past and Present, East and West, menawarkan koreksi ilmiahnya. Dan para penerjemah seperti Jawid Mojaddedi dan Rozina Ali kini menghasilkan versi-versi yang menjaga, sekaligus, kekuatan sastra dan konteks Islam dari teks aslinya.

Tugas kita bukanlah membuang versi-versi populer itu, melainkan membaca menembusnya menuju teks aslinya. Rumi tidak perlu diselamatkan dari Islam. Ia perlu dikembalikan ke tanahnya sendiri, agar bunga-bunganya dapat dilihat sebagaimana adanya.

Warisan

Pengaruh Rumi menjangkau jauh:

  • Tarekat Mevlevi, yang didirikan oleh para pengikutnya, menjadi salah satu tarekat Sufi terpenting di Kekaisaran Ottoman dan masih berlangsung hingga kini.
  • Makamnya di Konya, Museum Mevlana, dikunjungi lebih dari tiga juta orang setiap tahun dan menjadi salah satu situs yang paling dicintai di Turki.
  • Puisinya telah diterjemahkan ke lebih dari lima puluh bahasa dan memengaruhi para penulis, musisi, dan pemikir di seluruh dunia.
  • UNESCO menetapkan tahun 2007 sebagai “Tahun Rumi” untuk memperingati 800 tahun kelahirannya.

Yang membuat Rumi tetap hidup bukan semata keindahan sastra, melainkan bobot pemikirannya. Ia menulis tentang pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah pergi: siapa kita, apa yang kita cintai, bagaimana kita mati, apa makna semua itu, dan bagaimana seorang manusia berubah. Ia menulisnya dengan keterusterangan dan kedalaman yang masih menjangkau lintas abad.

Ruh ajarannya sering diringkas dalam satu kalimat: biarkan keindahan apa yang kaucintai menjadi bentuk dari apa yang kaukerjakan.

Sumber

  • Rumi, Masnawi-i Ma’nawi (c. 1258-1273)
  • Rumi, Fihi Ma Fihi (c. 1260-an)
  • Rumi, Diwan-i Syams-i Tabrizi (c. 1250-an)
  • Aflaki, Manaqib al-Arifin (c. 1353)
  • Sultan Walad, Ibtida-namah (c. 1291)
  • Sipahsalar, Risala-i Sipahsalar (c. 1312)

Tag

rumi mevlana puisi konya cinta masnawi sema

Artikel Terkait

Kutip sebagai

Raşit Akgül. “Rumi: Penyair Cinta Universal.” sufiphilosophy.org, 3 April 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/guru/rumi