Lewati ke konten
Puisi

Nyanyian Buluh: Pembuka Masnawi

Oleh Raşit Akgül 3 April 2026 6 menit baca

Diperbarui: 13 Juli 2026

Puisi

Dengarkanlah buluh, bagaimana ia berkisah, mengeluhkan perpisahan demi perpisahan.

“Sejak mereka memotongku dari rumpun buluh, ratapanku membuat lelaki dan perempuan mengerang.

Aku mendambakan dada yang terkoyak oleh keterpisahan, agar dapat kubentangkan pedih rindu cinta.

Setiap orang yang jauh dari asalnya merindukan saat ketika ia dahulu bersatu dengannya.

Kutumpahkan ratapanku di setiap majelis, kutemani mereka yang berduka dan yang bersukacita.

Setiap orang menjadi sahabatku menurut sangkanya sendiri, tak seorang pun mencari rahasiaku dari dalam diriku.

Rahasiaku tak jauh dari ratapanku, namun telinga dan mata tak punya cahaya untuk melihatnya.

Tubuh tak terhijab dari jiwa, tak pula jiwa dari tubuh, namun tiada yang diizinkan memandang jiwa.

Jeritan buluh ini api, bukan angin. Barang siapa tak memiliki api ini, biarlah ia tiada!

Inilah api cinta yang jatuh ke dalam buluh. Inilah ragi cinta yang jatuh ke dalam anggur.

Buluh adalah teman setiap orang yang terputus dari kekasih. Nada-nadanya telah mengoyak hijab kami.”

Dari Masnawi-yi Ma’nawi, Jilid I (c. 1258-1273) Berdasarkan terjemahan Reynold A. Nicholson

Konteks

Masnawi-yi Ma’nawi (“Bait-Bait Ruhani”) adalah mahakarya Rumi: enam jilid yang memuat lebih dari 25.000 bait syair, kisah, tafsir Qur’an, dan renungan filosofis. Sarjana Jami menyebutnya “al-Qur’an dalam bahasa Persia,” bukan untuk menyetarakannya dengan wahyu, melainkan untuk mengakui betapa dalam kandungan ruhaninya berakar pada Qur’an dan tradisi kenabian.

Bait-bait pembuka di atas, yang dikenal sebagai Ney-name (“Nyanyian Buluh”), menjadi tembang pembuka bagi seluruh karya ini. Selama tujuh abad ia dilantunkan dalam majelis Sufi, di dalam zawiyah para darwis, dan pada pembukaan upacara sema, sehingga menjadikannya di antara bait yang paling banyak dibaca dan paling banyak diberi syarah dalam seluruh sastra Sufi.

Kisah tentang bagaimana Masnawi ditulis memperdalam maknanya. Rumi memulai karya ini di usia enam puluhan, atas permintaan yang gigih dari murid dekatnya, Husameddin Chelebi. Menurut riwayat, ia mendiktekan delapan belas bait pertama dalam satu majelis, dan bait-bait itulah Nyanyian Buluh yang tercetak di atas. Seluruh puisi seolah sudah hadir, sebagai benih, dalam saat pembuka itu. Dua puluh lima ribu bait selebihnya adalah tumbuhnya perlahan apa yang telah terkandung dalam beberapa baris ini.

Buluh sebagai Lambang

Dalam tradisi Mevlevi, ney, seruling buluh, menempati kedudukan yang tak dimiliki alat musik lain, dan kedudukan itu diperolehnya justru karena bait ini. Buluh itu berongga. Ia tak berbunyi dengan sendirinya. Ia bernyanyi hanya ketika napas melintasinya, maka ia menjadi gambaran bagi manusia yang telah dikosongkan dari dirinya sendiri dan dipenuhi napas ilahi.

Bacalah gambaran itu dengan saksama, maka ia terbuka lebih jauh. Sebelum dipotong, buluh di rawa membisu. Dua hal harus terjadi lebih dahulu sebelum ia dapat berbunyi: ia mesti dicabut dari rumpunnya, dan napas dari luar mesti melintasinya. Hati manusia serupa itu. Ia menemukan suaranya hanya ketika ia merasakan keterpisahannya dari asal dan membuka diri kepada napas yang bukan miliknya. Karena itulah kekosongan menjadi penting. Buluh yang penuh sesak tak mengeluarkan nada, dan hati yang penuh sesak oleh dirinya sendiri tak menerima ilham. Buluh yang berongga adalah gambaran sederhana bagi fana, pengosongan ego: hanya ketika diri telah dilapangkan barulah Yang Haqq mendapat ruang untuk berbicara.

Keluhan buluh adalah keluhan jiwa. Terpotong dari rumpunnya, dari asalnya bersama Tuhannya, ia menjerit dalam kerinduan. Rumi sedang menamai sebuah keadaan yang dipikul setiap orang: kesadaran jiwa, betapapun samar, bahwa ia datang dari suatu tempat yang lebih agung daripada tempatnya berada kini.

Perpisahan dan Kerinduan

Perpisahan (firaq) bekerja pada beberapa lapisan dalam puisi ini. Di permukaan, ia adalah buluh yang dipotong dari rawa. Di baliknya, ia adalah jiwa manusia yang tertahan jauh dari Tuhannya oleh hijab ego dan kesibukan duniawi.

Baris “setiap orang yang jauh dari asalnya merindukan saat ketika ia dahulu bersatu dengannya” kerap dibaca dalam terang Perjanjian Alastu. Sebelum jiwa-jiwa memasuki dunia ini, Qur’an melukiskan mereka berkumpul di hadapan Tuhan mereka, yang bertanya, “Bukankah Aku Tuhanmu?” dan mereka menjawab, “Benar” (7:172). Pengakuan awal itulah kenangan yang dibawa buluh. Kegelisahan samar di kedalaman jiwa, rasa akan ada sesuatu yang belum tuntas, adalah jejak kedekatan itu. Jiwa adalah makhluk, bukan azali, namun ia mengingat Yang Esa yang pernah berdiri di hadapan-Nya, dan ia merindukan kepulangan.

Bait “setiap orang menjadi sahabatku menurut sangkanya sendiri, tak seorang pun mencari rahasiaku dari dalam diriku” layak diberi jeda tersendiri. Puisi Rumi telah dipakai untuk beragam tujuan selama berabad-abad: sebagai syair asmara, sebagai manifesto filsafat, sebagai lambang budaya. Sedikit yang mencari rahasia buluh yang sesungguhnya, yaitu kerinduan jiwa kepada Tuhannya. Setiap orang mencintai buluh menurut caranya sendiri, dan sedikit yang bertanya mengapa ia benar-benar menangis.

Kerinduan (isytiyaq) inilah tempat jalan bermula. Ia yang tak merasakan pedih itu belum lagi bergerak, dan ia yang mengibaskannya telah berpaling dari fitrahnya sendiri yang terdalam. Ketika Rumi berseru “barang siapa tak memiliki api ini, biarlah ia tiada,” ia bukan mengutuk, melainkan melukiskan kenyataan yang sederhana: tanpa kerinduan kepada Yang Ilahi, jiwa tetap beku.

Api, Bukan Angin

Rumi menegaskan bahwa jeritan buluh adalah “api, bukan angin.” Angin datang dari luar lalu berlalu, meninggalkan yang disentuhnya tak berubah; api masuk dan mengubah. Suara ney, dan kerinduan yang dibawanya, termasuk jenis yang kedua. Ia adalah api cinta ilahi (isyq) yang membakar habis segala yang palsu dan menyisakan hanya apa yang nyata.

Gambaran api kembali muncul sepanjang Masnawi. Rumi mengumpamakan cinta seperti nyala yang memisahkan emas dari sanga: ia membakar, namun hanya membakar yang palsu, dan ia menampakkan kilau apa yang benar. Pedih cinta, dalam bacaannya, adalah sebuah penyucian. Buluh meratap karena ia terbakar, dan ia terbakar karena api cinta telah jatuh ke dalamnya.

Inilah api yang ditunjuk tradisi Sufi ketika ia berbicara tentang Allah yang menarik hati kembali kepada-Nya. Ibn Arabi menyebut penyingkapan diri semacam ini tajalli, cara Yang Haqq menampakkan diri kepada hamba tanpa pernah menjadi hamba, dan Qur’an memberi ufuk atas semuanya: “Allah adalah Cahaya langit dan bumi” (24:35). Nyala kecil pada buluh adalah kerinduan yang tercipta, dinyalakan oleh Cahaya itu, bukan Cahaya itu sendiri. Nyanyiannya adalah undangan: kembalilah kepada asal.

Hijab yang Terkoyak

Baris terakhir, “nada-nadanya telah mengoyak hijab kami,” menamai kerja seluruh puisi Sufi. Hijab adalah lapisan-lapisan kelalaian, kebiasaan, dan ego yang menghalangi seseorang dari kesadaran akan Yang Ilahi. Puisi, musik, dan amalan yang dibangun di sekelilingnya, seperti upacara sema, hadir untuk menipiskan hijab itu melalui pengalaman langsung, bukan melalui perdebatan.

Gambaran ini menggemakan makna Qur’ani tentang kasyf, tersingkapnya sebuah tabir. Kebenaran terhijab, bukannya tiada, dan yang paling dibutuhkan hati adalah tersingkirnya apa yang mengaburkannya, lebih daripada perolehan sesuatu yang baru. Nada-nada buluh justru melakukan hal itu. Ia menyelinap melewati dinding yang dibangun akal dan berbicara langsung kepada hati, menipiskan tabir yang terhampar di atasnya.

Rumi membuka karya terbesarnya dengan ratapan buluh karena ia menjangkau sesuatu yang mendahului teologi dan mendahului filsafat: pengetahuan hati sendiri tentang dari mana ia datang dan ke mana ia menuju. Nyanyian Buluh terbaca bukan sebagai sebuah dalil, melainkan sebagai sebuah undangan. Hati yang mendengarnya mengenali kerinduannya sendiri, dan pengenalan itulah tempat perjalanan bermula.

Sumber

  • Jalaluddin Rumi, Masnawi-yi Ma’nawi, Jilid I (c. 1258)
  • Jalaluddin Rumi, Diwan-i Syams-i Tabrizi (c. 1244-1273)
  • Annemarie Schimmel, The Triumphal Sun (1978)
  • William Chittick, The Sufi Path of Love (1983)

Tag

rumi masnawi ney buluh kerinduan perpisahan

Artikel Terkait

Kutip sebagai

Raşit Akgül. “Nyanyian Buluh: Pembuka Masnawi.” sufiphilosophy.org, 3 April 2026 (13 Juli 2026terakhir diperbarui) . https://sufiphilosophy.org/id/puisi/nyanyian-buluh

Cari