Lewati ke konten
Dasar

Isyq: Cinta Ilahi di Jantung Sufisme

Oleh Raşit Akgül 7 April 2026 14 menit baca

Cinta adalah pengalaman paling universal yang dimiliki manusia. Setiap hati yang pernah berdetak pernah mencintai sesuatu. Setiap lagu, setiap puisi, setiap doa yang dibisikkan, dengan caranya masing-masing, adalah kesaksian akan cinta. Di zaman kita kata ini ada di mana-mana: dinyanyikan, dijual, dibedah tanpa henti. Namun apa yang dimaksud tradisi Sufi dengan cinta jauh lebih tepat, lebih menuntut, dan lebih mengubah daripada apa yang biasa disebut cinta oleh dunia.

Kata Sufi untuk itu adalah isyq. Ia bukan satu perasaan di antara perasaan lain. Ia bukan suasana hati yang singgah lalu pergi. Dalam bahasa para guru besar, isyq adalah kekuatan yang menyatukan seluruh kosmos spiritual, alasan mengapa ciptaan ada, arus yang mengalir antara Pencipta dan makhluk, dan jalan yang membawa jiwa pulang ke asalnya. Mendekati filsafat Sufi tanpa isyq sama seperti mencoba memahami musik tanpa suara.

Dasar Al-Qur’an

Tradisi Sufi tidak menciptakan cinta ilahi. Ia menemukannya di dalam Al-Qur’an dan dalam teladan Nabi, lalu menghabiskan seribu tahun untuk menyingkap apa yang sudah ada di sana.

Ayat sentralnya adalah Al-Qur’an 5:54: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” Segala yang dikatakan tradisi tentang cinta berpijak pada kalimat singkat ini. Perhatikan urutannya. Ayat ini tidak berkata “mereka mencintai-Nya dan Dia mencintai mereka.” Ia berkata sebaliknya. Cinta Allah datang lebih dahulu. Hati manusia tidak memulai hubungan itu; ia menjawab cinta yang sudah hadir, yang sudah mengulur, yang sudah menarik jiwa menuju Tuhannya. Cinta apa pun yang dirasakan hamba itu sendiri adalah pemberian, jejak, gema dari cinta yang lebih besar, yang menopangnya dari satu napas ke napas berikutnya.

Dasar kedua adalah nama ilahi al-Wadud, Yang Maha Pencinta, yang muncul dalam Al-Qur’an 11:90 dan 85:14. Al-Wadud bukan sekadar gambaran tentang sesuatu yang Allah lakukan. Ia adalah salah satu Nama yang dengannya Allah menyingkapkan diri-Nya. Cinta bukan kegiatan sesekali dari Yang Ilahi. Ia adalah sifat dari penyingkapan diri ilahi itu sendiri. Ketika tradisi Sufi berbicara tentang isyq, ia berbicara tentang sesuatu yang berakar pada sebuah Nama yang termasuk dalam cara Allah menyifati diri-Nya.

Ayat ketiga memperluas cakrawala. Al-Qur’an 30:21 memberitahu kita bahwa Allah menciptakan pasangan-pasangan bagi manusia “dan menjadikan di antara kamu mawadda (rasa kasih) dan rahma (kasih sayang),” lalu menutup ayat itu dengan menyebutnya salah satu tanda Allah. Bahkan cinta antara suami dan istri dinamai tanda ilahi, sebuah penunjuk. Kasih sayang manusia biasa tidak diremehkan. Justru ia dimuliakan karena ia menggemakan sesuatu yang lebih tinggi. Tradisi Sufi menanggapi ini dengan sungguh-sungguh. Jika cinta antara dua manusia adalah tanda dari Allah, maka cinta antara hati dan Allah adalah realitas yang ditunjuk oleh tanda itu.

Harta Tersembunyi

Di samping Al-Qur’an, tradisi Sufi menjunjung sebuah hadis qudsi yang, meskipun tidak terdapat dalam koleksi kanonik, mengalir seperti benang perak melintasi berabad-abad pengajaran:

“Aku adalah harta yang tersembunyi, dan Aku ingin dikenal, maka Aku menciptakan makhluk agar Aku dikenal.”

Ibn Arabi, Rumi, dan banyak lainnya memperlakukan hadis ini sebagai kunci bagi metafisika itu sendiri. Bacalah perlahan. Ciptaan bukan fakta yang netral. Ia bukan mesin yang dingin. Ia adalah penyingkapan diri dari cinta yang rindu untuk dikenali. Sebelum ada bintang, sebelum ada waktu, sebelum ada telinga atau mata mana pun, ada harta tersembunyi dan hasrat untuk dikenal. Semesta ini ada karena Sang Kekasih berkehendak untuk dikenal. Setiap daun yang berpaling ke matahari, setiap anak yang membuka matanya, setiap pencari yang bersujud dalam shalat adalah ciptaan yang sedang melakukan tugas yang untuknya ia dijadikan: mengenali Dia yang menciptakannya.

Hal ini membingkai segala yang menyusul. Jika ciptaan itu sendiri bermula dari cinta, maka jalan spiritual bukanlah pembuatan cinta di tempat yang tadinya kosong dari cinta. Ia adalah kepulangan kepada cinta yang sudah ada bahkan sebelum jiwa dipanggil menjadi ada.

Hubb dan Isyq

Al-Qur’an biasanya menyebut cinta dengan kata hubb. Hubb adalah kasih sayang, kelekatan, perhatian. Ia kata yang tenang dan terhormat. Ketika tradisi Sufi menambahkan isyq, yang membawa bara gairah yang meluap dan membakar, sebagian ulama awal merasa cemas. Isyq adalah kata yang dipakai para penyair Arab untuk pencinta yang tak bisa makan, tak bisa tidur, tak bisa memikirkan apa pun selain kekasihnya. Memakai kata seperti itu untuk Allah, bagi sebagian orang, terasa sebagai kekeliruan kategori, seolah kekacauan gairah manusia diseret masuk ke dalam tempat suci ibadah.

Para guru besar menjawab keberatan itu dengan cermat. Mereka tidak menyangkal bahwa isyq itu dahsyat. Mereka berkata justru kedahsyatan itulah intinya. Kasih sayang biasa terlalu kecil untuk melukiskan apa yang harus diberikan hati kepada Penciptanya. Ikatan antara hamba dan al-Wadud melampaui ikatan mana pun antara dua makhluk, dan kata yang lebih lemah akan berdusta dengan merendahkannya. Isyq dipilih bukan kendati kedahsyatannya, melainkan justru karena kedahsyatan itu. Ia memberitahu kita bahwa Sang Kekasih lebih besar daripada kekasih mana pun, bahwa cinta yang dituntut lebih besar daripada cinta apa pun, dan bahwa perubahan yang dikerjakan cinta ini pada pencinta lebih menyeluruh daripada yang bisa dikerjakan cinta yang lebih kecil.

Junaid al-Baghdadi, yang paling tenang di antara guru-guru awal, memakai bahasa cinta tanpa gentar. Hallaj menjadikannya pusat ajarannya. Rabi’ah bahkan, satu abad sebelumnya, telah mengikat tradisi pada kata itu. Pada masa klasik, isyq tidak lagi kontroversial. Ia telah menjadi kata milik tradisi sendiri untuk apa yang terbakar di hati pencari.

Revolusi Rabi’ah

Sebelum Rabi’ah al-Adawiyah (w. 801), cinta kepada Allah sebagian besar dibicarakan dalam kerangka takut dan harap. Cintailah Allah, karena Allah akan memberimu pahala. Cintailah Allah, karena Allah akan menghukum mereka yang menolak-Nya. Kerangka ini tidak salah. Ia hadir di dalam Al-Qur’an dan dalam teladan kenabian. Tetapi ia belum seluruh gambaran, dan Rabi’ah menambahkan sesuatu yang tak pernah dilupakan tradisi.

Doanya yang masyhur adalah pernyataan paling jernih tentang apa yang ia bawa:

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut pada Neraka, bakarlah aku di Neraka. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap Surga, jauhkanlah aku dari Surga. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau sendiri, janganlah Engkau tahan dariku keindahan-Mu yang abadi.”

Inilah pemurnian cinta dari kepentingan diri. Takut dan harap tidak ditolak; keduanya ditempatkan pada tempatnya. Keduanya adalah awal jalan, bukan ujungnya. Pencinta yang matang tidak mencintai Allah demi menerima sesuatu. Pencinta yang matang mencintai Allah karena Sang Kekasih memang layak dicintai. Pahala dan hukuman, surga dan neraka, gugur sebagai pendorong, dan yang tersisa adalah cinta yang telah ditelanjangi dari setiap tujuan sampingan.

Revolusi Rabi’ah bukan pemberontakan terhadap syariat. Ia tetap menjaga shalat, puasa, dan malam-malam ibadahnya yang panjang. Yang ia ubah adalah arah batin. Ia menegaskan bahwa seseorang bisa, bahkan harus, menginginkan Allah demi Allah, bukan demi apa yang Allah berikan. Dengan begitu ia menetapkan nada bagi setiap ajaran Sufi tentang isyq sesudahnya.

Ibn Arabi: Cinta sebagai Rahasia Wujud

Ibn Arabi (w. 1240) menjadikan harta tersembunyi sebagai engsel metafisikanya. Wujud, dalam arti sepenuhnya, hanya milik Allah. Segala selain-Nya ada oleh cahaya pinjaman, ditahan dalam keberadaannya dari saat ke saat oleh tindakan penciptaan Yang Maha Nyata. Tetapi tindakan itu tidak sewenang-wenang. Ia adalah penyingkapan diri (tajalli) Sang Kekasih yang ingin dikenal. Semesta bukan luapan acak dan bukan keniscayaan yang dingin. Ia adalah ucapan Sang Pencinta.

Itulah sebabnya, bagi Ibn Arabi, setiap benda ciptaan membawa jejak nama-nama ilahi. Sehelai daun bukan Allah. Sebuah bintang bukan Allah. Hati manusia bukan Allah. Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan tidak pernah terhapus, dan Ibn Arabi tegas tentang ini. Tetapi setiap benda ciptaan adalah satu suku kata dalam sebuah kalimat yang makna akhirnya adalah penyingkapan diri ilahi. Membaca ciptaan dengan benar berarti mendengar sebuah surat cinta yang sedang diucapkan menjadi ada. Lihat juga pembahasan tauhid tentang penegasan keesaan ilahi yang menjadi dasar ajaran ini, dan artikel wahdat al-wujud tentang bagaimana metafisika Ibn Arabi menjaga garis antara Pencipta dan ciptaan.

Dalam pandangan ini, pencinta tidak menciptakan cinta. Pencinta menemukan bahwa cinta sudah ada di sana, menopang setiap napas, menahan setiap atom, menunggu untuk dikenali. Jalan spiritual menjadi sebuah laku perhatian: belajar menyadari apa yang selama ini sudah benar. Ketika alkimia hati memoles cermin batin, pencinta mulai melihat cinta yang di dalamnya ia selalu berdiri.

Rumi: Suara Isyq

Jika Ibn Arabi memberikan arsitektur paling ketat bagi metafisika cinta, Rumi memberinya suara yang paling tak terlupakan. Matsnawi, dalam satu sisi, adalah perenungan enam jilid tentang isyq. Bait pembukaannya tentang seruling buluh yang dipotong dari rumpunnya adalah citra tradisi yang paling masyhur tentang luka cinta. Setiap pencinta dalam syair itu, Majnun yang gila karena Layla, Yusuf yang merindu di dasar sumur, burung beo yang merana karena India, sang pencinta di pintu Sang Kekasih, adalah cermin tempat jiwa diundang mengenali kerinduannya sendiri akan asalnya. Nyanyian Buluh bukan puisi tentang kesedihan. Ia puisi tentang luka yang menjaga jiwa tetap terjaga akan apa yang telah hilang darinya dan akan apa yang memanggilnya pulang.

Rumi menekankan sesuatu yang mudah luput. Cinta bukan emosi yang dimiliki pencinta. Cinta adalah realitas yang lebih besar daripada pencinta, yang bergerak melaluinya menuju tujuannya sendiri. Pencinta tidak memiliki cinta; cintalah yang memiliki pencinta. Ia membakar pencinta hingga tinggal yang nyata dalam dirinya, dan membiarkan sisanya gugur. Karena itulah Rumi bisa menyebut rasa sakit cinta sebagai rahmat. Terbakar itu adalah pemurnian. Tanpanya, hati tetap sesak oleh segala yang bukan Sang Kekasih.

Dua kalimat yang secara luas dinisbahkan kepada Rumi menangkap nada ini, meski tak satu pun dapat dilacak ke bagian tertentu dari Matsnawi atau Diwan: bahwa cinta adalah jembatan antara diri dan segala sesuatu, dan bahwa apa pun yang seseorang kerjakan hendaknya dikerjakan karena cinta, sebab selebihnya belum lagi kehidupan. Dibaca dalam ruh tradisi, kalimat-kalimat ini bukan ungkapan sentimental. Ia adalah pernyataan tentang realitas. Cinta bukan hiasan kehidupan; ia adalah saripati kehidupan, dan apa pun yang dikerjakan tanpanya, dalam arti yang dalam, belum lagi hidup.

Apa yang Bukan Isyq

Karena isyq adalah kata yang kuat, dan karena di dunia modern cinta telah ditarik-ulur hingga berarti hampir apa saja, ada baiknya menyatakan dengan jelas apa yang bukan cinta Sufi. Para guru terbesar menjaga batas-batas ini, demikian pula arus utama tradisi.

Isyq bukan cinta romantis yang diproyeksikan kepada Allah. Ia bukan versi kosmis dari rasa tergila-gila manusiawi. Ia adalah pengakuan bahwa Dia yang menciptakan hati berhak atas mutu perhatian yang hanya bisa digemakan oleh hubungan antarmanusia, betapa pun berharganya. Cinta manusia adalah tanda; isyq adalah realitas yang ditunjuk oleh tanda itu. Mencampuradukkan keduanya berarti mengira penunjuk sebagai yang ditunjuk.

Isyq bukan panteisme. Pencinta tidak menjadi Sang Kekasih. Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan tidak dihapus oleh cinta; justru ditegakkan oleh cinta. Engkau tidak dapat mencintai dirimu sendiri sebagaimana engkau mencintai yang lain. Seluruh bangunan cinta bergantung pada kenyataan adanya dua, Sang Pencinta dan Sang Kekasih, yang dipertautkan oleh satu ikatan tanpa salah satunya melebur ke yang lain. Tauhid tidak dibatalkan oleh isyq; tauhid justru yang memungkinkan isyq.

Isyq bukan persatuan (ittihad). Hallaj, ketika berseru Ana al-Haqq, tidak mengaku telah menjadi Allah. Ia berbicara dari keadaan fana, runtuhnya klaim ego untuk berdiri di atas dirinya sendiri. Yang gugur adalah kepura-puraan ego, bukan kenyataan sebagai makhluk. Hamba tetap hamba. Setetes air tidak menjadi samudra. Yang terbakar adalah pengakuan-diri ego bahwa ia sesuatu yang berdiri sendiri, terpisah dari Yang Esa yang menopangnya. Junaid, yang memahami ini dengan tepat, berpendapat bahwa penyingkapan semacam itu sebaiknya disimpan, karena ia begitu mudah disalahpahami.

Isyq bukan antinomianisme. Poin ini tidak bisa terlalu ditegaskan. Pencinta tidak mengatasi syariat. Nabi, semoga shalawat dan salam atasnya, adalah pencinta Allah yang terbesar, dan sekaligus yang paling teliti menjaga perintah ilahi. Para Sahabat yang paling mencintainya mencintai apa yang ia cintai dan melakukan apa yang ia lakukan. Para Sufi besar, hampir tanpa kecuali, ketat dalam shalat, puasa, dan amalan kenabian lainnya. Cinta memperdalam kesetiaan pada teladan kenabian; ia tidak menggantikannya. Di mana pun ajaran isyq dipelintir untuk membenarkan ditinggalkannya syariat, para guru tradisi meluruskannya dengan satu suara.

Pemeliharaan Isyq

Jika isyq adalah realitas yang demikian besar, bagaimana ia dipupuk? Bukan, kata para guru, dengan berusaha membuat-buat perasaan. Hati tidak bisa dipaksa untuk merasa. Yang bisa dilakukan adalah menyiapkan tanah tempat cinta menjadi dapat dikenali.

Melalui zikir. Setiap pengulangan Nama Allah, pada dasarnya, adalah laku cinta: lidah dan hati bersama-sama mengulurkan diri kepada Sang Kekasih. Seiring waktu, Nama itu mengerjakan hati seperti air mengerjakan batu. Ia melunakkannya. Ia memolesnya. Ia membuatnya mampu menampung apa yang sebelumnya tak dapat ia tampung.

Melalui pelayanan. Cinta kepada Allah menampakkan diri sebagai kepedulian terhadap makhluk-makhluk-Nya. Di sini para guru sepakat. Orang yang mengaku mencintai Allah tetapi kasar, kikir, atau acuh kepada makhluk yang Allah cintai telah salah paham tentang siapa yang seharusnya ia cintai.

Melalui pengangkatan hijab. Isyq tidak absen dari hati lalu harus didatangkan dari luar. Ia sudah ada, sudah mendesak dinding-dinding kehidupan batin. Yang menghalanginya bukan kekurangan cinta, melainkan tumpukan kelekatan pada apa yang bukan Sang Kekasih. Pemurnian hati adalah kerja sabar mengangkat hijab-hijab itu satu per satu.

Melalui penderitaan yang dihadapi dengan sabr dan syukr. Cinta dimurnikan dalam kesulitan. Para penyair Sufi berbicara tentang “rasa sakit cinta” bukan sebagai masalah melainkan sebagai tungku pemurnian. Kelapangan tidak menguji apa yang dicintai hati; kesulitanlah yang menguji. Pencinta yang tetap mencintai melewati apa yang akan mematahkan kasih yang lebih kecil telah belajar sesuatu yang tak pernah bisa diajarkan oleh kenyamanan.

Melalui mengikuti teladan kenabian. Nabi, semoga shalawat dan salam atasnya, adalah yang paling dicintai Allah. Bagi tradisi, mahabbah lir-rasul, cinta kepada Rasul, adalah pintu masuk menuju cinta kepada Yang mengutusnya. Berjalan menapaki jejaknya, meneladani perangainya, menyerap ihsan-nya, adalah menempuh satu-satunya jalan tempat cinta ilahi pernah dibawa dengan selamat. Semakin dalam ihsan seseorang, semakin jernih kesadarannya akan Sang Kekasih yang pandangan-Nya sudah lebih dahulu tertuju kepada sang hamba.

Amalan-amalan ini tidak menghasilkan cinta sebagaimana mesin menghasilkan keluaran. Ia menyingkirkan apa yang menghalangi hati untuk mengenali cinta yang di dalamnya ia sudah dipegang. Tahapan jiwa menggambarkan gerakan ini dari luar, sebagai disiplin pemurnian. Isyq menggambarkannya dari dalam, sebagai tarikan yang membuat pemurnian itu sanggup ditanggung.

Pencinta Mengambil Sifat Sang Kekasih

Ajaran tradisi yang paling dalam tentang isyq termuat dalam hadis qudsi lain, kali ini dari koleksi kanonik. Di dalamnya Allah berfirman tentang hamba yang Ia cintai:

“Apabila Aku mencintai hamba-Ku, Aku menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangan yang dengannya ia menggenggam, dan kaki yang dengannya ia berjalan.”

Ini bukan panteisme, dan bukan peniadaan hamba. Ini adalah gambaran tentang apa yang dikerjakan cinta pada pencinta. Orang yang mencintai Allah mulai bertindak dengan rahmat Allah, kesabaran Allah, keadilan Allah, kemurahan Allah. Bukan karena ia menjadi Allah, melainkan karena cinta membuatnya tembus oleh sifat-sifat ilahi. Pendengaran itu tetap pendengarannya, tetapi kini ia mendengar sebagai orang yang telah diliputi oleh Yang ia cintai. Tangan itu tetap tangannya, tetapi ia bergerak sebagai tangan yang pemiliknya berupaya bertindak selaras dengan Sang Kekasih.

Inilah buah masak dari isyq: bukan sebuah perasaan, melainkan pembentukan ulang watak ke arah yang ilahi. Pencinta mulai menampakkan, dalam saat-saat biasa sebuah hidup, sifat-sifat Yang ia cintai. Kelembutan, kesabaran, kejujuran, kemurahan hati, kelapangan dada, pemaafan: semua ini bukan tambahan. Ini adalah apa yang ditumbuhkan cinta ilahi di hati yang menerimanya. Sebuah hidup yang di dalamnya sifat-sifat ini tumbuh adalah hidup yang di dalamnya isyq itu nyata, betapa pun sedikit yang dikatakan sang pencinta tentangnya.

Penutup: Hati dan Sang Kekasih yang Layak

Isyq adalah apa yang ditunjuk tradisi Sufi dalam setiap puisi, setiap kisah, setiap amalan, setiap baris metafisika. Ia adalah alasan mengapa ada jalan sama sekali. Ia adalah alasan mengapa ada hati yang pemurniannya bermakna. Ia adalah alasan mengapa ada sufisme yang bisa dibicarakan sejak awal.

Pertanyaan yang diajukan tradisi kepada pembaca bukanlah apakah harus mencintai. Setiap hati mencintai sesuatu. Pertanyaannya adalah apa yang layak bagi cinta hati yang paling dalam. Seribu tahun perenungan, amalan, dan puisi telah menyatu pada satu jawaban: hanya Dia yang menciptakan hati yang dapat memenuhinya. Segala yang lain, betapa pun indahnya, adalah cahaya pinjaman. Wajah-wajah yang dicintai, tempat-tempat yang dicintai, perkara-perkara yang dicintai, masing-masing adalah pantulan, dan masing-masing bersinar sejauh ia membiarkan cahaya Yang Maha Nyata menembusinya.

Yunus Emre, penyair Anatolia yang menuangkan seluruh ajaran ini ke dalam bahasa Turki paling sederhana yang dapat dipahami petani mana pun, mengatakannya sekali untuk selamanya:

“Bana seni gerek seni.”

Aku memerlukan-Mu, hanya Engkau.

Ketika sebuah hati dapat mengucapkan baris itu dan sungguh-sungguh memaksudkannya, harta tersembunyi tidak lagi tersembunyi, dan alasan penciptaan telah terpenuhi di satu sudut lain dunia ini.

Sumber

  • Al-Qur’an 5:54; 11:90; 85:14; 30:21
  • Hadis qudsi, “Aku adalah harta yang tersembunyi…” Riwayat ini tidak terdapat dalam koleksi hadis Sunni kanonik; para muhaddithun klasik (Ibnu Hajar, Suyuti, Sakhawi) mencatat ketiadaan sanad yang sahih. Tradisi tasawuf, sejak Futuhat Ibn Arabi, menerimanya sebagai sahih melalui kasyf (penyingkapan) dan memperlakukannya sebagai hadis qudsi atas dasar itu. Kandungan teologisnya, bahwa penciptaan berasal dari kehendak ilahi untuk dikenal, dibahas secara luas di seluruh tasawuf.
  • Sahih al-Bukhari, “Apabila Aku mencintai hamba-Ku…” (hadis kedekatan melalui nawafil)
  • Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyyah (sek. 1046), bab tentang mahabbah
  • Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din (sek. 1097), Kitab tentang Cinta, Kerinduan, Keakraban, dan Keridaan
  • Ibn Arabi, Fusus al-Hikam (sek. 1230)
  • Rumi, Matsnawi (sek. 1273)
  • Attar, Tadzkirat al-Auliya (sek. 1220), tentang Rabi’ah

Tag

isyq cinta ilahi rabi'ah rumi ibn arabi al-wadud hubb filsafat sufi

Artikel Terkait

Kutip sebagai

Raşit Akgül. “Isyq: Cinta Ilahi di Jantung Sufisme.” sufiphilosophy.org, 7 April 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/dasar/isyq