Lewati ke konten
Hikmah Harian

Teslim: Seni Berserah kepada Kehendak Ilahi

Oleh Raşit Akgül 3 April 2026 12 menit baca

Diperbarui: 17 Juli 2026

Ada satu saat dalam kehidupan ruhani ketika setiap siasat gagal. Sang pencari telah melatih sabar sampai ke batas daya tahannya. Ia telah menumbuhkan tawakal dan belajar mempercayakan segala hasil kepada Allah. Ia telah merangkul faqr dan mengecap kebebasan dari kebutuhan yang berlebihan. Namun tetap saja ada yang menolak menyerah. Di bawah semua keutamaan itu tersisa satu simpul halus di dalam hati: keras kepala ego untuk tetap memegang kendali, untuk menjadi pihak yang memutuskan, yang menentukan sendiri syarat ketaatannya. Simpul terakhir inilah yang diuraikan oleh teslim.

Teslim adalah tunduknya kehendak pribadi kepada kehendak ilahi. Akar Arabnya, s-l-m, adalah akar yang sama yang melahirkan kata Islam dan salam, dan di dalamnya terkandung sekaligus penyerahan, kedamaian, dan keutuhan. Bahasa sendiri menyimpan rahasianya di sini: keutuhan datang melalui penyerahan, dan kedamaian adalah buah dari berhentinya perlawanan terhadap tatanan yang telah diatur oleh Dia yang mengatur segala sesuatu. Memahami teslim berarti memahami mengapa agama ini memikul nama yang disandangnya, dan mengapa para penempuhnya yang paling dalam selalu mengajarkan bahwa penyerahan lahiriah kepada hukum ilahi menemukan kesempurnaannya dalam penyerahan batin di dalam hati.

Sedikit guru dalam tradisi ini yang memetakan medan tersebut sekuat Abdul Qadir al-Jilani (w. 1166 M), wali agung Baghdad yang khotbah-khotbahnya, terhimpun dalam Al-Fath al-Rabbani (Pembukaan yang Agung), tetap termasuk ajaran ruhani paling menyelami yang pernah dicatat. Al-Jilani tidak berbicara dalam abstraksi. Ia berdiri di hadapan para pendengarnya dan menyingkap dengan tepat bagaimana ego manusia menolak Allah, lalu, dengan kasih yang tegas, menunjukkan jalan keluarnya.

Petikan yang dikutip di bawah ini menyampaikan ajaran al-Jilani dalam Al-Fath al-Rabbani dengan gaya khotbahnya yang langsung; petikan ini memadatkan intinya menurut caranya sendiri, bukan mengulang satu terjemahan harfiah.

Beda Tawakal dan Teslim

Untuk menangkap apa itu teslim, kita harus lebih dulu melihat perbedaannya dari tawakal, yang mudah dikelirukan dengannya. Tawakal adalah kepercayaan pada cara Allah mengatur segala hasil. Orang yang bertawakal mengerjakan apa yang wajib, lalu percaya bahwa Allah akan mendatangkan apa yang terbaik. Ini sudah merupakan pencapaian ruhani yang nyata. Namun perhatikanlah baik-baik. Orang yang bertawakal masih menyimpan kesukaan. Ia masih mengharapkan hasil tertentu. Ia baru belajar untuk percaya kepada Allah tatkala hasilnya ternyata berbeda dari harapannya.

Teslim melangkah lebih jauh. Ia adalah teredamnya keinginan akan hasil tertentu, apa pun itu. Orang yang bertawakal berkata, “Aku percaya pilihan Allah lebih baik daripada pilihanku.” Orang yang berteslim berkata, “Aku tidak lagi menahan pilihanku sendiri di hadapan pilihan Allah.” Ini bukan pasrah dalam arti menyerah kalah, dan bukan pula sikap acuh. Ini adalah pengakuan, yang lahir dari pengalaman panjang dan perenungan yang dalam, bahwa kesukaan kita bersumber dari pengetahuan yang terbatas, sedangkan tatanan Allah mengalir dari hikmah yang tak terbatas. Al-Quran menyatakannya dengan jernih dan tajam:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Quran 2:216)

Ayat inilah landasan Qurani bagi teslim. Ia tidak mengatakan bahwa kesukaan kita selalu keliru. Ia mengatakan sesuatu yang lebih menggoncang: kita tidak berada pada kedudukan yang memungkinkan kita mengetahui apakah kesukaan itu benar atau keliru. Jangkauan penglihatan kita terlalu sempit, dan jalinan sebab dan akibat terlalu luas, bagi siapa pun di antara kita untuk menilai dengan pasti apa yang sungguh baik dan sungguh membahayakan. Teslim adalah jawaban sehari-hari yang dihidupi atas kebenaran ini.

Tiga Tahap Penyerahan menurut al-Jilani

Dalam Al-Fath al-Rabbani, Abdul Qadir al-Jilani menelusuri terbentangnya teslim melalui tiga tahap, masing-masing menjangkau lebih dalam ke wilayah ego.

Tahap Pertama: Penyerahan Perbuatan

Tahap pertama dan yang paling mudah dijangkau adalah penyerahan perbuatan. Di sini sang pencari melepaskan dorongan untuk mengendalikan setiap sudut kehidupan beserta hasil-hasilnya. Petunjuk al-Jilani bersifat praktis dan seimbang:

“Bekerjalah dengan tanganmu dan biarkan hatimu bersama Allah. Gunakan anggota tubuhmu pada apa yang Ia perintahkan, dan serahkan hasilnya kepada Dia yang menciptakan dirimu dan perbuatanmu sekaligus.”

Petani menanam benih, menyiraminya, menjaganya dari hama dan kekeringan. Itulah kerja petani, dan mengabaikannya adalah kemalasan yang berpakaian kesalehan. Namun petani tidak menumbuhkan benih itu. Proses tersembunyi tatkala kulit biji yang mati di dalam tanah gelap merekah dan mengirim tunas hijau menuju cahaya yang belum pernah dilihatnya adalah milik Allah semata. Teslim pada tingkat pertama ini adalah pengenalan atas batas tersebut. Yang menjadi bagianmu, kerjakanlah sepenuhnya dan sebaik-baiknya. Yang menjadi bagian Allah, serahkanlah kepada Allah. Banyak kegelisahan kita, kata al-Jilani, lahir dari mencampuradukkan keduanya, dari memikul beban hasil yang sejak semula bukan tanggungan kita. Tradisi menamai kewaspadaan atas batas itu muhasabah, perhitungan harian ketika sang hamba menimbang apa yang sungguh menjadi bagian usahanya dan apa yang bukan.

Karena itu, penyerahan bukanlah kepasifan. Orang yang pasif gagal bertindak. Orang yang berteslim bertindak sepenuhnya dan sekadar tidak mengira perbuatan itu sebagai hasilnya. Antara penanaman dan panen terbentang ruang yang menjadi milik Allah, dan hati yang berserah tidak melanggar ruang itu dengan kecemasan, tipu daya, atau rencana yang berlebihan.

Tahap Kedua: Penyerahan Kehendak

Tahap kedua lebih berat, dan di sinilah ketajaman al-Jilani menyelami hati mencapai puncaknya. Pada tingkat ini sang pencari dipanggil untuk menyerahkan bukan sekadar hasil perbuatan, melainkan kehendak itu sendiri yang terus-menerus melahirkan kesukaan. Ego tak henti memproduksi keinginan, rencana, dan kecemasan tentang masa depan. Ia melukiskan bagaimana segalanya seharusnya, lalu menderita tatkala kenyataan menolak menyerupai lukisan itu. Teslim pada tahap ini adalah penerimaan sepenuh hati yang terkandung dalam doa, “Kehendak-Mu, bukan kehendakku.”

Al-Jilani berbicara tentang beratnya hal ini:

“Kau menginginkan ganjaran Allah, tetapi menurut syaratmu sendiri. Kau menginginkan surga, tetapi kau ingin memilih sendiri jalannya. Kau ingin diselamatkan, tetapi kau ingin menjadi penyelamatnya.”

Ini menembus ke jantung siasat ego. Ego jarang menentang Allah secara terang-terangan, sebab itu terlalu kentara. Sebaliknya, ia membajak jalan ruhani. Ia berkata, “Ya, aku akan berserah,” sembari memaksudkan, “Aku akan berserah dengan cara yang kupilih, pada waktu yang kupilih, dengan syarat yang kupilih.” Ia mengangkat dirinya sebagai pengurus atas peleburannya sendiri, yang berarti bukan peleburan sama sekali. Al-Jilani melihatnya dengan jelas: penghalang terbesar bagi penyerahan adalah kesigapan ego untuk memerankan penyerahan sambil tetap memegang kendali atas pertunjukannya.

Tidak ada teknik yang melarutkan hal ini. Yang melarutkannya adalah berpalingnya hati. Tatkala sang pencari bertemu dengan apa yang tak ia inginkan dan tak akan pernah ia pilih, tatkala penyakit datang, tatkala kehilangan berkunjung, tatkala rencana runtuh, latihannya bukanlah menggumamkan “segala sesuatu terjadi karena suatu alasan,” sebuah basa-basi yang tak berharga apa-apa. Latihannya adalah mengamati hatinya sendiri. Apakah ia memberontak? Apakah ia diam-diam menuduh Allah berlaku zalim? Apakah ia merangkai kisah yang menempatkan dirinya sebagai korban? Reaksi semacam itu membuka jurang antara teslim yang diaku dan teslim yang sejati. Kewaspadaan batin ini, pembacaan atas reaksi diri sendiri, adalah apa yang para guru sebut firasat, ketajaman yang menangkap gerak tersembunyi hati. Al-Jilani menyampaikannya langsung:

“Tanggapanmu terhadap apa yang menimpamu adalah cermin imanmu. Jangan katakan padaku bahwa engkau beriman pada hikmah Allah. Tunjukkan padaku bagaimana engkau bersikap tatkala hikmah-Nya berlawanan dengan keinginanmu.”

Tahap Ketiga: Penyerahan Diri

Tingkat terdalam teslim, yang berbatasan dengan apa yang oleh para Sufi disebut fana, adalah penyerahan diri itu sendiri. Yang ditundukkan kini lebih dalam daripada perbuatan atau kesukaan. Ia adalah klaim mendasar ego untuk menjadi pusat yang berdaulat, rujukan-diri yang terus-menerus, yang dengannya nafs menempatkan dirinya di tengah setiap pengalaman. Al-Jilani menggambarkan mereka yang mencapai maqam ini sebagai orang yang telah “mati sebelum mati,” gema dari ajaran kenabian bahwa orang bijak adalah mereka yang menghisab diri sebelum dihisab.

Ini harus dipahami dengan hati-hati, selaras dengan tauhid dalam ajaran Ahlusunah. Penyerahan diri bukanlah pemusnahan pribadi, dan bukan pula peleburan ke dalam Zat ilahi. Pembedaan antara Pencipta dan ciptaan tidak pernah terhapus. Yang larut bukanlah sang hamba, melainkan ilusi hamba tentang kedaulatannya. Manusia tetaplah seorang hamba, seorang abd, hanya kini seorang hamba yang telah berhenti berlagak sebagai tuan. Tahapan-tahapan jiwa sebagaimana dipetakan dalam tradisi Qurani menggambarkan pendakian ini: dari nafs al-ammarah (ego yang menyuruh kepada keburukan), melalui nafs al-lawwamah (ego yang mencela dirinya sendiri), menuju nafs al-mutmainnah (jiwa yang tenang), yakni jiwa yang telah sungguh-sungguh sampai pada teslim. Ajaran al-Jilani di sini berbunyi:

“Tatkala hati sang hamba dikosongkan dari kehendaknya sendiri, ia menjadi bejana bagi kehendak Allah. Dan kehendak Allah tak pernah keliru, tak pernah cemas, tak pernah tersesat. Hati yang menampungnya mewarisi sifat-sifatnya: kejernihan, keyakinan, dan kedamaian.”

Diagnosis al-Jilani atas Penolakan

Yang memberi Al-Fath al-Rabbani daya tahannya yang lestari adalah bahwa ia tidak berhenti pada gambaran tentang penyerahan. Dengan ketepatan yang jarang ada, ia menyingkap mengapa ego menolaknya. Al-Jilani paham bahwa sekadar menyuruh orang untuk berserah hanya membuahkan sedikit hasil. Kita harus menunjukkan kepada mereka mesin penolakan mereka yang sesungguhnya, sebab ego luar biasa mahir menyembunyikan diri dari dirinya sendiri.

Mekanisme pertama yang ia sebut adalah tawar-menawar ruhani. Ego mendatangi Allah bagai perunding: “Aku akan menyembah-Mu, tetapi aku mengharapkan imbalan tertentu. Aku akan sabar, tetapi hanya sampai batas tertentu. Aku akan percaya kepada-Mu, tetapi bila keadaan terlampau lama memburuk, aku berhak menarik kembali kepercayaanku.” Sikap dagang terhadap Yang Ilahi ini, tegas al-Jilani, termasuk salah satu bentuk syirik tersembunyi yang paling umum, sebab ia menaruh syarat-syarat ego di samping kehendak Allah seakan keduanya sama-sama berdaulat. Ia menghadapinya:

“Kau telah menjadikan kenyamananmu sendiri sebagai berhala. Kau menyembah Allah tatkala Ia memberimu apa yang kauinginkan, dan berpaling tatkala Ia memberimu apa yang kaubutuhkan.”

Mekanisme kedua adalah ego ruhani, jenis penipuan diri yang paling berbahaya. Inilah ego yang telah menguasai kosakata penyerahan dan mengenakannya bagai jubah. Ia berbicara tentang teslim dengan fasih. Ia mengajari orang lain tentang keterlepasan. Ia menampilkan wajah ketenangan. Namun di baliknya ia hanya bertambah canggih dalam menonjolkan dirinya. Al-Jilani menghadapi keadaan ini tanpa memperhalus:

“Sebagian dari kalian datang ke majelis ini mengenakan pakaian orang saleh, mengucapkan kata-kata para wali, tetapi hati kalian adalah pasar tempat ego berjual beli. Kalian belum berserah. Kalian baru belajar memalsukan penyerahan.”

Ia mengucapkan ini dalam kasih sayang, untuk menyembuhkan. Kerasnya adalah kerasnya seorang tabib bedah, bukan seorang algojo. Ia menyingkap penyakit agar ia dapat diobati. Dan obatnya bukanlah usaha diri yang lebih banyak. Obatnya adalah pengakuan yang merendahkan diri bahwa bahkan kemampuan untuk berserah pun adalah karunia dari Allah, bukan capaian ego.

Teslim dalam Kehidupan Sehari-hari

Al-Jilani tak pernah membiarkan teslim tetap menjadi gagasan yang mengambang. Di sepanjang Al-Fath al-Rabbani ia kembali ke keadaan nyata kehidupan biasa, sebab di sanalah penyerahan diuji, lalu terbukti atau ternyata kurang.

Tatkala engkau kehilangan penghidupanmu, ajar al-Jilani, teslim tidak berpura-pura bahwa kehilangan itu tak menyakitkan. Ia menyakitkan. Nyerinya nyata, dan menyangkalnya adalah kebohongan. Teslim adalah merasakan nyeri itu dan tetap tidak membiarkannya mengeras menjadi tuduhan terhadap Allah. Ia adalah meratapi yang hilang sembari tetap terbuka pada apa yang mungkin Allah bukakan melalui kehilangan itu.

Tatkala seseorang menzalimimu, teslim tidak memintamu memadamkan rasa keadilanmu. Kezaliman harus dilawan, dan yang dizalimi punya hak penuh untuk menuntut ganti rugi. Namun di bawah tanggapan lahiriah yang selayaknya, hati dijaga dari racun dendam, sebab ia tahu bahwa bahkan si pelaku zalim pun bertindak dalam jangkauan pengetahuan Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban pada waktu Allah, bukan waktumu.

Tatkala penyakit datang, teslim berada pada saat terberatnya sekaligus terjujurnya. Tubuh menderita, dan tak ada perbincangan ruhani yang menghapus nyeri jasmani. Namun al-Jilani mengajarkan bahwa penyakit menanggalkan kepura-puraan berdikari lebih pasti daripada latihan mana pun. Orang yang sehat bisa membayangkan dirinya mandiri. Orang yang sakit tidak bisa. Dihadapi dengan teslim, penyakit menjadi pintu menuju kebenaran. Al-Jilani menyampaikan pelajarannya dengan gamblang:

“Allah tidak menurunkan kesusahan untuk menghukum orang yang Ia cintai. Ia menurunkannya untuk mendekatkan orang yang Ia cintai. Api tidak membenci emas. Ia memurnikannya.”

Buah dari Teslim: Sakinah

Al-Quran berbicara tentang sakinah, ketenangan ilahi yang Allah turunkan ke dalam hati orang-orang beriman. Sakinah inilah buah dari teslim yang tulus. Ia bukan ketenangan palsu dari penyangkalan, dan bukan mati rasa seorang yang telah menyerah kalah. Ia adalah kedamaian yang dalam dan mantap dari hati yang telah berhenti melawan kenyataan dan telah mengenali, dalam setiap keadaan, tangan Tuhan yang bijaksana dan penyayang.

Al-Jilani menggambarkan keadaan ini dengan kelembutan yang tak biasa:

“Hati yang telah sungguh berserah bagaikan danau pada malam tanpa angin. Setiap bintang di langit terpantul di dalamnya. Bukan karena danau bersusah payah memantulkannya, melainkan karena ia telah menjadi cukup tenang untuk menerima apa yang memang telah ada di sana.”

Ketenangan ini, anehnya, adalah keadaan paling aktif yang bisa dicapai seseorang. Orang yang berteslim tak lagi lumpuh oleh cemas akan hasil, tak lagi letih oleh usaha mengendalikan apa yang tak dapat dikendalikan, tak lagi terganggu oleh komentar ego yang tiada henti tentang apakah segalanya berjalan baik atau buruk. Terbebas dari beban-beban itu, hati yang berserah bertindak dengan kejernihan, dengan huzur, dan dengan ketegasan yang tak pernah didekati oleh hati yang cemas. Inilah sebabnya para lelaki dan perempuan agung dalam sejarah Islam, mereka yang membangun peradaban, yang meninggalkan karya-karya keindahan intelektual dan seni yang memukau, yang menghadapi penindasan, pembuangan, dan kematian dengan ketenangan, bukanlah orang yang kekurangan kehendak. Kehendak mereka telah diselaraskan dengan Kehendak yang lebih besar daripada kehendak mereka sendiri.

Amalan dzikir, mengingat Allah, adalah kendaraan yang terus mengantar penyelarasan ini. Al-Ghazali mengamati bahwa ingatan lisan mendahului ingatan hati, sebagaimana penyerahan hati mendahului kedamaian jiwa. Di dalam Tarekat Qadiriyah yang didirikan atas nama al-Jilani, disiplin dzikir dan muraqabah dibentuk justru untuk membawa sang pencari dari ingatan luar menuju penyerahan dalam, dari pengulangan nama-nama Allah menuju kenyataan hidup yang digambarkan oleh nama-nama itu.

Penutup: Ajaran Terberat sekaligus Paling Membebaskan

Teslim adalah, tanpa diragukan, ajaran terberat di jalan Sufi. Ia meminta apa yang oleh ego dialami sebagai kematian: pelepasan klaimnya atas kedaulatan hidupnya sendiri. Setiap serat nafs menolaknya. Setiap naluri mempertahankan diri memberontak. Namun mereka yang telah melewati gerbang sempit ini, yang telah sungguh menyerahkan kehendaknya kepada kehendak Dia yang menciptakan mereka, melaporkan penemuan yang sama lintas abad, budaya, dan perangai. Apa yang mereka takuti sebagai kematian ternyata adalah kelahiran. Apa yang mereka alami sebagai kehilangan adalah syarat bagi penemuan. Dan kedamaian yang mereka kejar melalui seribu tempat ternyata sejak semula menanti di satu tempat yang mereka enggan tengok: dalam perbuatan melepaskan.

Ajaran penutup al-Jilani berbunyi:

“Tatkala engkau melepaskan segalanya, segalanya datang kepadamu. Bukan karena engkau memperolehnya dengan usaha, melainkan karena engkau akhirnya berhenti menghalanginya. Rahmat Allah selalu mengalir ke arahmu. Kepalan tanganmu sendirilah yang menahannya.”

Inilah janji sekaligus paradoks teslim: penyerahan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awalnya yang sejati.

Sumber

  • Abdul Qadir al-Jilani, Al-Fath al-Rabbani (c. 1150)
  • Abdul Qadir al-Jilani, Futuh al-Ghayb (c. 1150)
  • Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumiddin (c. 1097)
  • Abu Hamid al-Ghazali, Kimiya-yi Sa’adat (c. 1105)
  • Al-Qusyairi, Ar-Risala al-Qusyairiyya (c. 1046)
  • Al-Hujwiri, Kasyf al-Mahjub (c. 1070)
  • Ibn Atha’illah al-Iskandari, Al-Hikam (c. 1290)

Tag

teslim berserah kehendak ilahi abdul qadir penyerahan

Artikel Terkait

Kutip sebagai

Raşit Akgül. “Teslim: Seni Berserah kepada Kehendak Ilahi.” sufiphilosophy.org, 3 April 2026 (17 Juli 2026terakhir diperbarui) . https://sufiphilosophy.org/id/hikmah-harian/teslim

Cari