Lewati ke konten
Hikmah Harian

Tawakkal: Kepercayaan Tanpa Kepasifan

Oleh Raşit Akgül 3 April 2026 16 menit baca

Diperbarui: 13 Juli 2026

Seorang Badui pernah datang kepada Nabi Muhammad SAW dan mengajukan pertanyaan yang bergema selama empat belas abad pemikiran Islam: “Haruskah aku mengikat untaku lalu bertawakkal kepada Allah, atau aku biarkan terlepas lalu bertawakkal kepada Allah?” Jawaban Nabi datang segera, tepat, dan sarat makna: “Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah kepada Allah” (Tirmidzi). Dalam satu percakapan singkat itu terletak seluruh ajaran tasawuf tentang tawakkal, dan yang lebih penting lagi, koreksi terhadap kesalahpahaman yang paling melekat padanya.

Hadis ini luar biasa justru karena apa yang ditolaknya. Ia menolak untuk memilih antara usaha dan kepercayaan. Ia menolak menempatkan amal dan penyerahan kepada Allah sebagai dua hal yang berlawanan. Sang Badui mengajukan pertanyaan pilihan, dan Nabi menjawab dengan keduanya sekaligus. Engkau berusaha. Lalu engkau bertawakkal. Bukan salah satunya, melainkan keduanya, dalam urutan itu.

Inilah gagasan yang kemudian dikembangkan, diperdalam, dan diterapkan oleh tradisi tasawuf pada setiap segi kehidupan manusia, dari pasar hingga sajadah. Dan mungkin lebih dari istilah tasawuf mana pun, gagasan ini paling sering dipipihkan oleh pemakaian sehari-hari menjadi sesuatu yang tidak pernah dimaksudkannya.

Apa yang Bukan Tawakkal

Ada sebuah kata dalam bahasa Arab yang bunyinya hampir sama dengan tawakkul tetapi maknanya sama sekali berbeda: tawakul. Yang pertama, tawakkul, berasal dari akar kata w-k-l, yang berarti menunjuk seorang wakil, menyerahkan urusan kepada yang cakap menanganinya. Yang kedua, tawakul, berarti ketergantungan, kemalasan, dan pengabaian usaha dengan dalih ketakwaan. Para ulama klasik sangat cermat menjaga perbedaan ini karena mereka menyaksikan sendiri bagaimana yang satu runtuh menjadi yang lain.

Imam al-Ghazali, yang menulis pada abad ke-11, mengamati bahwa sebagian orang enggan berobat dengan alasan bahwa penyakit mereka adalah kehendak Allah sehingga tidak boleh dilawan. Beliau mengingatkan bahwa Nabi sendiri berobat ketika sakit, bahwa Al-Quran menyebut adanya penyembuhan, dan bahwa meninggalkan sebab sambil mengaku bertawakkal kepada Zat yang menciptakan sebab-sebab itu justru bertentangan dengan dirinya sendiri. Sang tabib adalah bagian dari pemberian Allah, dan obat adalah bagian dari pengaturan-Nya. Menolak keduanya berarti membuang alat-alat yang telah Allah letakkan di dunia, lalu menamai penolakan itu sebagai tawakkal.

Kekeliruan ini mendatangkan bahaya yang nyata. Inilah nalar seorang pelajar yang enggan belajar karena “hasil ada di tangan Allah”, pasien yang menolak pengobatan karena “ajalku sudah tertulis”, dan masyarakat yang tidak mau merencanakan karena “Allah pasti mencukupi”. Dalihnya terdengar saleh, dan dalam setiap kasus ia bertentangan dengan tradisi yang diklaimnya diikuti.

Nabi menanam pohon dan menggali parit. Beliau bermusyawarah dengan para sahabat sebelum perang, mengirim pengintai ke depan, dan mengenakan baju besi dalam pertempuran. Tak satu pun dari semua itu mengurangi tawakkalnya kepada Allah; itulah justru bentuk tawakkal beliau. Tawakkal membiarkan tangan tetap bekerja dan hanya mengendurkan cengkeraman hati pada hasil.

Sandaran Hati

Jika tawakkal bukan kepasifan, lalu apa sebenarnya? Al-Ghazali memberikan pembahasan yang paling sistematis dalam karya besarnya, Ihya Ulumiddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama), dengan mengkhususkan satu kitab penuh untuk tema ini. Definisinya cermat: tawakkal adalah bersandarnya hati sepenuhnya kepada wakil (yang kepadanya urusan diserahkan) sementara anggota badan terus bekerja.

Perhatikan bangunan definisi ini. Hati bersandar sementara anggota badan berusaha, dan keduanya adalah dua mitra yang bekerja pada ranah yang berbeda. Tangan menanam benih, dan hati mempercayai Zat yang menurunkan hujan. Lidah mengucapkan kebenaran, dan hati mempercayai Zat yang mengatur akibat yang lahir darinya. Amal adalah milik hamba; hasil adalah milik Tuhan.

Al-Ghazali menghadirkan sebuah perumpamaan yang menerangi hubungan ini: seorang anak yang berjalan bersama ibunya melintasi pasar yang ramai. Anak itu berjalan dengan kakinya sendiri. Ia melihat ke sekeliling. Ia mencari arah. Namun ia melakukannya dengan rasa aman yang bersumber dari kehadiran sang ibu. Jika ia tersandung, sang ibu menangkapnya. Jika ia ketakutan, sang ibu ada di sana. Usaha anak itu nyata. Kepercayaannya pun nyata. Dan kepercayaan itu tidak meniadakan usaha, melainkan mengubah mutunya, dari langkah yang gelisah menjadi langkah yang tenang dan yakin.

Perumpamaan ini menyingkap cara kerja tawakkal yang sebenarnya. Ia adalah tanah tempat bangunan berdiri, fondasi tempat pekerjaan bertumpu, dan ia mengubah seluruh mutu pekerjaan yang dilakukan di atasnya. Dua orang dapat mengerjakan hal yang persis sama, yang satu bersandar dalam tawakkal dan yang lain tidak, dan bagi setiap pengamat kegiatannya tampak serupa. Namun di dalam batin, keduanya berjauhan bagai dua dunia. Yang satu bekerja dengan lapang, yang lain dengan cemas.

Tiga Tingkatan

Al-Ghazali membagi tawakkal menjadi tiga tingkatan, dan pembagian ini memperlihatkan kedalaman ajaran para sufi yang sesungguhnya.

Tingkatan pertama seperti mempercayakan urusan kepada seorang pengacara yang cakap. Engkau punya perkara hukum, lalu menyerahkannya kepada orang yang engkau yakini terampil dan amanah. Perkara sudah engkau serahkan, tetapi engkau masih gelisah. Engkau masih menanyakannya berulang kali. Engkau masih terjaga di malam hari, cemas kalau-kalau ada yang terlewat olehnya. Inilah tawakkal dalam bentuknya yang paling dasar: akal membenarkan bahwa Allah mengatur segala sesuatu, tetapi hati belum sampai pada ketenangannya. Apa yang engkau ketahui belum menjadi apa yang engkau rasakan.

Tingkatan kedua seperti seorang anak bersama ibunya. Di sini, kepercayaan telah berpindah dari akal ke dalam hati. Engkau tidak cemas karena kecemasan itu tak lagi terlintas. Sang anak tidak terjaga di malam hari, bertanya-tanya apakah ibunya akan ingat menyiapkan sarapan. Pertanyaan itu memang tidak muncul. Pada tingkat ini, tawakkal bukan lagi gagasan yang engkau pegang, melainkan keadaan yang engkau diami. Rasa sakit mungkin tetap datang, dan ketika datang engkau mungkin menjerit, seperti anak yang menangis kesakitan meski dalam dekapan ibunya. Namun di balik jeritan itu, kepercayaan tetap utuh.

Tingkatan ketiga seperti jenazah di tangan orang yang memandikannya untuk dikuburkan. Tidak ada perlawanan sama sekali. Tidak ada pilihan. Tidak ada gerak mendekat atau menjauh dari apa pun. Apa pun yang datang diterima dengan ketenangan yang penuh. Orang itu tidak menjadi dingin atau acuh. Ia telah menyadari, pada tingkat pengalaman yang paling dalam, bahwa Zat yang mengatur urusannya jauh lebih bijaksana, lebih penyayang, dan lebih mengetahui daripada dirinya sendiri.

Kebanyakan orang berada pada tingkatan pertama. Para ulama dan penempuh yang tulus mungkin mencapai tingkatan kedua. Tingkatan ketiga adalah maqam para wali besar, dan al-Ghazali mengakui bahwa menggambarkannya dengan tepat pun sulit, karena bahasa dibangun untuk mengungkapkan pengalaman diri-diri yang terpisah dengan segala kesukaan dan ketakutannya. Pada tingkatan ketiga, diri yang terpisah itu telah menjadi begitu bening sehingga kosakata lama nyaris tak lagi berlaku.

Tawakkal dan Nafs

Mengapa melepaskan diri dari hasil begitu sulit? Jawaban para sufi menunjuk kepada nafs, diri-ego, yang menarik jati dirinya justru dari hasil.

Perhatikan bagaimana ini bekerja dalam keseharian. Engkau bersiap untuk sebuah ujian, dan bisikan batin pun mulai: “Jika aku lulus, aku cerdas. Jika aku gagal, aku tak berharga.” Engkau melamar sebuah pekerjaan, dan mekanisme yang sama menyala: “Jika aku diterima, aku diakui. Jika aku ditolak, aku terpuruk.” Engkau menjalin hubungan, dan pola itu berlanjut: “Jika ia mencintaiku, aku layak dicinta. Jika ia pergi, aku memang tak pernah cukup.”

Dalam setiap kasus, nafs diam-diam telah mematri jati diri kepada hasil, begitu diam-diamnya sehingga kebanyakan orang tak pernah memergokinya. “Aku ada” menjadi tak terpisahkan dari “apa yang menimpaku”. Hati yang berada dalam keadaan itu menjadi sandera bagi keadaan-keadaan yang memang tak pernah diberi kuasa untuk dikendalikannya.

Tawakkal memutus perpaduan ini dengan ketajaman yang tepat. Ia berkata: engkau bukanlah hasilmu. Nilaimu tidak naik turun mengikuti keadaanmu. Engkau adalah hamba Allah, dan hubungan itu tetap teguh, entah ujian berjalan baik, entah pekerjaan ditawarkan, entah hubungan itu bertahan. Berusahalah sepenuhnya. Bersiaplah sematang-matangnya. Berikan segenap yang engkau punya. Lalu lepaskan hasilnya, sebab hasil memang tak pernah dalam genggamanmu, dan nilaimu tak pernah bergantung padanya.

Kosakata tasawuf klasik untuk keadaan ini adalah abdiyah: keadaan sebagai ‘abd, seorang hamba. Abdiyah menamai pijakan sejati orang beriman. Hamba bekerja, tetapi hamba tidak memiliki pekerjaannya; hamba bersiap, tetapi hamba tidak mengendalikan hasilnya. Hasil itu diberikan oleh Sang Pemilik. Bersandar dalam abdiyah berarti terbebas dari penghakiman diri tanpa henti yang mematri jati diri kepada hasil. Al-Ghazali menyebut kebebasan ini al-ghina bi-llah, “kaya dengan Allah”: ketenangan hati yang berkecukupan dengan Tuhannya dan tidak lagi membutuhkan dunia untuk mengesahkan dirinya.

Khidir dan Perahu yang Dilubangi: Kisah Tawakkal dalam Al-Quran

Landasan Al-Quran yang paling dalam tentang tawakkal adalah kisah Musa dan Khidir dalam Surah al-Kahfi, ayat 60 sampai 82. Ceritanya pendek, sederhana, dan menggelisahkan. Allah berfirman kepada Musa tentang seorang hamba yang telah diberi ilmu dari sisi-Nya. Musa mencarinya, meminta izin mengikutinya. Khidir menerima dengan satu syarat: “Janganlah engkau menanyakan sesuatu apa pun kepadaku hingga aku sendiri yang menerangkannya kepadamu” (18:70).

Lalu terjadilah tiga peristiwa.

Pertama. Mereka menaiki sebuah perahu. Khidir dengan sengaja melubanginya. Musa tak dapat menahan diri: “Mengapa engkau melubanginya sehingga penumpangnya tenggelam? Sungguh engkau telah berbuat sesuatu yang berat” (18:71).

Kedua. Khidir membunuh seorang pemuda. Musa membantah lebih keras: “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih tanpa hak? Sungguh engkau telah berbuat sesuatu yang mungkar” (18:74).

Ketiga. Dalam keadaan lapar dan lelah, mereka tiba di sebuah negeri yang enggan menjamu mereka. Khidir melihat sebuah dinding yang hampir roboh, lalu menegakkannya. Musa menyanggah untuk terakhir kalinya: “Jika engkau mau, tentu engkau dapat meminta upah untuk itu” (18:77).

Khidir kemudian berpisah dari Musa, tetapi sebelumnya ia menyingkap permukaan tiap peristiwa untuk menunjukkan apa yang ada di baliknya.

Perahu itu milik beberapa orang miskin, perahu yang menghidupi keluarga mereka. Di hilir ada seorang raja lalim yang merampas dengan paksa setiap perahu yang masih utuh. Perahu itu perlu tampak cacat agar sang perampas melewatinya, dan keluarga itu pun tetap memiliki mata pencahariannya. Lambung yang berlubang adalah tabir bagi perampasan yang tidak jadi terjadi.

Pemuda yang dibunuh membawa tanda-tanda kuat bahwa kelak ia akan menyeret kedua orang tuanya yang beriman ke dalam pembangkangan dan kekafiran. Khidir, dengan izin Tuhannya, mengambilnya agar kedua orang tua itu diberi ganti anak yang lebih baik dan lebih penyayang. Apa yang tampak sebagai kehilangan adalah dinding yang menjaga iman kedua orang tua itu.

Dinding di negeri yang tak ramah itu berdiri di atas harta simpanan milik dua anak yatim yang ayahnya seorang saleh. Khidir menegakkan dinding itu agar kedua anak itu tumbuh dewasa, mengambil hartanya dengan tangan mereka sendiri, dan tetap memiliki warisannya. Apa yang tampak sebagai kerja tanpa upah adalah pemberian keadilan yang tak terlihat bagi masa depan dua anak yatim.

Tiga peristiwa. Tiga rupa lahiriah. Tiga makna yang tersembunyi di balik permukaan.

Ajaran Rumi bersambung langsung dengan kisah Al-Quran ini. Peristiwa yang kita baca sebagai bencana bisa jadi adalah bimbingan Khidir yang menyamar. Sakit, kehilangan, kegagalan, patah hati: semua itu bisa jadi perahu yang dilubangi, yang menutupi sesuatu yang belum sanggup kita lihat. Inilah bentuk aktif dari tawakkal: memelihara keyakinan pada hikmah Allah bahkan ketika keadaan tampak gelap.

Dalam semangat ajaran Khidir pada Rumi, hal ini dapat diungkapkan demikian:

“Apa yang tampak bagimu semata-mata sebagai bahaya boleh jadi adalah rahmat bagi hati yang sejati, kapak Khidir yang menebang kayu demi keselamatan yang belum engkau lihat.”

Inti halus dari kisah Khidir adalah bahwa tawakkal memberi ruang bagi tindakan. Khidir bertindak. Ia melubangi perahu. Ia menegakkan dinding. Ada tindakan, tindakan yang tegas dan langsung. Namun Khidir memahami hasil lahiriah dari tindakannya sebagai tabir atas hikmah Allah. Ia tahu bahwa ia bukan pemilik hasil. Wa mā fa’altuhu ‘an amrī: “Aku tidak melakukannya menurut kehendakku sendiri” (18:82).

Mengenali momen Khidir dalam hidup sendiri itu sulit, sebab menurut sifatnya permukaannya memang tampak rusak. Lamaran kerja yang ditolak, hubungan yang berakhir, uang yang tak kunjung datang, pintu yang tertutup: pada saat itu engkau tak dapat memastikan mana di antaranya yang merupakan perahu, mana yang dinding, dan mana yang sekadar keausan dunia. Tawakkal adalah kesabaran untuk hidup di dalam ketidaktahuan itu. Ia memindahkan tempat penghakiman, dari catatan nilaimu yang pendek kepada sumber yang lebih layak dipercaya.

Maka tawakkal menjadi pembentukan harian, sesuatu yang dihidupi orang beriman di jam-jam biasa. Kepada pikiran yang cemas, kepada suara yang berkata “bagaimana jika aku gagal?”, suara al-Kahfi menjawab: “bagaimana jika inilah perahu yang tak engkau lihat?” Kecemasan hidup dari anggapan bahwa permukaan yang tampak itulah segalanya. Tawakkal membongkar anggapan itu. Ia menerima permukaan sebagai permukaan, dan menolak memastikan bahwa di baliknya tidak ada tangan Khidir yang sedang bekerja.

Anatomi Kecemasan

Kegelisahan memiliki bentuk, dan justru bentuk itulah yang dijawab oleh tawakkal. Hampir seluruhnya melesat mendahului saat ini menuju masa depan yang belum lahir: bagaimana jika aku gagal, bagaimana jika mereka pergi, bagaimana jika semuanya lenyap. Hati melatih bencana esok hari dan menderitanya hari ini, padahal tak satu pun dari bencana itu telah tiba. Inilah ghaflah, kelalaian hati yang melupakan Zat yang menggenggam hari esok dalam kuasa-Nya.

Tawakkal tidak melarang perencanaan; perencanaan termasuk kerja jujur anggota badan. Yang dilarutkannya adalah ketakutan yang mengerumuni rencana setelah pekerjaan usai, “bagaimana jika” yang tak berkesudahan dan mengubah persiapan menjadi kelumpuhan. Ketika hati sungguh-sungguh telah menyerahkan urusannya, pertanyaan itu kehilangan dayanya, sebab ketenteramanmu tak lagi ditumpangkan pada hasil. Kini ia bertumpu pada Zat yang mengatur setiap hasil. Engkau curahkan usahamu yang terbaik, dan usaha itu memang milikmu untuk dicurahkan. Apa yang kemudian terjadi adalah milik Allah, dan memang selalu demikian adanya. Tawakkal adalah tempat berdiri yang tenang di antara keduanya.

Tawakkal dalam Tindakan

Tradisi kita kaya dengan kisah orang-orang yang menjelmakan tawakkal sebagai keterlibatan yang aktif dan berani dengan kehidupan.

Pada peristiwa Hijrah, perpindahan dari Mekah ke Madinah, Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di sebuah gua sementara para pengejar mencari mereka. Para pelacak Quraisy datang begitu dekat hingga Abu Bakar dapat melihat kaki-kaki mereka. Ia berbisik, “Andai salah seorang dari mereka menunduk, ia pasti melihat kita.” Nabi menjawab, “Apa dugaanmu tentang dua orang yang bersama mereka Allah menjadi yang ketiga?” (Al-Quran 9:40). Beliau adalah orang yang telah merencanakan dengan sangat cermat. Hijrah itu diatur dengan teliti: jalur diintai, bekal disiapkan, penunjuk jalan disewa, dan pengelabu dikerahkan. Setiap ikhtiar manusia telah ditempuh. Lalu, pada saat ikhtiar manusia telah sampai ke batasnya, tawakkal mengisi ruang yang tersisa.

Ibrahim bin Adham, sang pangeran abad ke-8 yang meninggalkan takhtanya untuk menempuh jalan ruhani, kadang digambarkan sebagai sosok yang lepas dari dunia. Namun pengunduran dirinya sendiri adalah tindakan yang menentukan, sebuah penataan ulang yang radikal atas urutan penting dalam hidup. Ia tidak menarik diri dari kehidupan. Setelah meninggalkan kerajaannya, ia bekerja sebagai buruh, penjaga malam, dan petani. Ia tidak menganggur. Ia hanya berhenti menarik jati dirinya dari apa yang ia miliki.

Rabiah al-Adawiyah, wali perempuan agung dari Basrah, hidup dalam kemiskinan yang begitu keras sampai para tamu kadang meneteskan air mata. Namun kemiskinan itu bukanlah intinya. Intinya adalah apa yang disingkapkan oleh kemiskinan itu: seorang yang keadaan batinnya tidak naik turun mengikuti keadaan lahir. Ketika ada yang menawarinya harta, ia menolak. Ia tidak membenci kekayaan itu sendiri; ia hanya telah menemukan bahwa kepuasannya tidak bergantung padanya. Doanya yang masyhur menangkap inti sarinya: “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, halangilah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau tahan dariku keindahan-Mu yang abadi.”

Rida: Maqam di Atasnya

Di atas tawakkal terletak sebuah maqam yang disebut para sufi rida, sering diterjemahkan sebagai kerelaan atau kepuasan. Perbedaannya halus tetapi berarti. Dalam tawakkal, engkau menerima apa yang datang. Dalam rida, engkau sungguh-sungguh rela dengan apa yang datang, termasuk kesulitan, kehilangan, dan penderitaan.

Rida sama sekali bukan kegemaran pada penderitaan. Hikmah ilahi bekerja pada ukuran yang begitu luas sehingga suka dan tidak suka manusia adalah takaran yang buruk untuk menilai apa yang sungguh baik. Al-Quran menyatakannya dengan lugas: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (2:216).

Rida adalah penghayatan ayat ini pada tingkat pengalaman yang nyata. Orang yang telah sampai kepada rida tidak sekadar meyakini bahwa pengaturan Allah itu bijaksana. Ia mengalaminya sebagai kebijaksanaan. Ia memandang bentangan hidupnya, termasuk lembah-lembahnya, dan melihat keterpaduan yang tak tampak dari dasar lembah. Ia tidak mencari kesulitan itu; setelah melewatinya, ia jadi melihat kedudukannya dalam pola yang jauh lebih besar daripada rancangannya sendiri.

Hubungan antara tawakkal dan rida bersifat bertahap. Tawakkal adalah amalannya. Rida adalah buahnya. Rida tidak dapat engkau paksakan dengan kekuatan kehendak. Namun tawakkal dapat engkau tumbuhkan melalui amalan harian, dan seiring waktu, melalui karunia ilahi yang dipahami para sufi sebagai perubahan batin, tawakkal matang menjadi rida.

Jika tawakkal begitu penting dan begitu mengubah, pertanyaan praktisnya menjadi: bagaimana ia ditumbuhkan?

Tradisi menawarkan beberapa jalan. Yang pertama adalah zikir, mengingat Allah, khususnya kalimat Hasbunallahu wa ni’mal wakil (“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung”). Kalimat ini bukan mantra ajaib. Kekuatannya terletak pada apa yang dilakukan pengulangan terhadap hati. Di tempat kecemasan hendak menyeret hati ke pusaran gundah, zikir memutus pusaran itu dan memalingkan hati kembali kepada sumber keamanannya yang sejati. Seiring waktu, palingan itu menjadi tabiat, dan hati belajar meraih Allah sebelum ia meraih ketakutan.

Jalan kedua adalah merenungkan pemberian di masa lampau. Berapa banyak dari kekhawatiranmu yang lama benar-benar terjadi? Berapa malam engkau terjaga mencemaskan sesuatu yang tak pernah datang? Dan dari kesulitan yang memang datang, berapa banyak yang ternyata membawa, terlipat di dalamnya, sebuah pertumbuhan atau rahmat yang tak sanggup engkau rancang sendiri? Ini bukan latihan mengingkari kenyataan. Sebagian ketakutan memang menjadi nyata, dan sebagian kehilangan memang benar terjadi. Namun perhitungan yang jujur biasanya memperlihatkan bahwa kadar kekhawatiran jauh melampaui bencana yang sungguh menimpa, dan bahwa kesulitan yang nyata pun kerap membawa hikmah yang tersembunyi selama ia berlangsung. Menoleh ke belakang inilah muhasabah sang hamba, penghisaban diri, dan ia mengajari hati untuk mempercayai Sang Pemberi yang telah memberinya begitu banyak.

Jalan ketiga adalah mengamalkan tindakan-tindakan kecil kepercayaan. Sedekahkan sesuatu ketika engkau tidak yakin mampu. Ucapkan kebenaran ketika engkau tidak yakin ia akan diterima. Melangkahlah ketika engkau belum melihat seluruh jalan. Kepercayaan tumbuh sebagaimana kekuatan tumbuh, melalui pemakaian. Percobaan-percobaan kecil ini memberi hati pengalaman hidup yang ia butuhkan, sebab kepercayaan yang hanya dipikirkan tak pernah menjadi kepercayaan yang dihidupi.

Revolusi di Dalam

Apa yang dipahami para sufi, dan apa yang dihidupi hamba yang bersandar dalam abdiyah, adalah bahwa ikatan antara usaha dan kecemasan tidaklah mati. Engkau dapat bekerja keras tanpa dilahap kecemasan. Engkau dapat peduli sedalam-dalamnya tanpa dihancurkan oleh hasil. Engkau dapat merencanakan sematang-matangnya lalu berdiri dalam ketenangan. Ketenangan ini tidak lahir dari sikap masa bodoh. Ia lahir dari mengetahui di mana sesungguhnya keamananmu berdiam: pada Zat yang engkau abdi, dan tak pernah pada hasil yang tak dapat engkau miliki.

Tawakkal adalah jawaban tasawuf atas salah satu pertanyaan tertua yang dapat diajukan hati manusia: bagaimana engkau berusaha sepenuhnya di dunia yang tidak engkau kendalikan? Bukan kepasifan, bukan pula kecemasan, melainkan jalan ketiga yang diberikan Nabi kepada seorang Badui dalam satu kalimat di tengah padang: kerjakan tugasmu, lalu bertawakkallah.

Ikatlah untamu. Lalu lepaskanlah.

Sumber

  • Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Kitab 35: Kitab al-Tawakkul (c. 1097)
  • Qusyairi, ar-Risalah al-Qusyairiyah (c. 1046)
  • Al-Quran 2:216, 3:173, 9:40, 65:3
  • Hadis: Tirmidzi (ikatlah untamu)

Tag

tawakkal kepercayaan tawakal pasrah

Artikel Terkait

Kutip sebagai

Raşit Akgül. “Tawakkal: Kepercayaan Tanpa Kepasifan.” sufiphilosophy.org, 3 April 2026 (13 Juli 2026terakhir diperbarui) . https://sufiphilosophy.org/id/hikmah-harian/tawakkul

Cari